ESAI: Sastrawan, budayawan, dan pertautan yang tak pernah usai

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 14:30 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Namun seiring proses, ia merekam detail kehidupan yang mungkin luput dari perhatian orang, bahasa yang digunakan pedagang, warna kain di lapak, bau ikan asin yang menempel di udara.

Puisi itu akhirnya menjadi arsip budaya yang tak ternilai. Sebaliknya, seorang budayawan yang meneliti sejarah kuliner Betawi bisa saja menggunakan teknik naratif yang meminjam kekuatan sastra.

Ia merangkai deskripsi rasa, aroma, dan warna sedemikian rupa sehingga pembaca tidak hanya memahami, tapi juga 'merasakan' kembali suasana makan di teras rumah tempo dulu.

Persinggungan ini membuat batas antara keduanya menjadi kabur. Mungkin yang membedakan bukan apa yang mereka kerjakan, tapi cara mereka memandang dunia.

Baca Juga: Demi cinta, remaja di Subang ditikam 8 kali: Polisi tangkap 4 pelaku pengeroyokan brutal

Sastrawan bergerak dari imajinasi menuju fakta, budayawan bergerak dari fakta menuju imajinasi.

Di tengah jalan, mereka sering bertemu, bertukar peran, lalu melanjutkan perjalanan dengan membawa sedikit dari dunia satu sama lain.

Baik sastrawan maupun budayawan sama-sama bekerja dengan bahan yang rapuh: ingatan manusia.

Ingatan ini bisa menguap, bisa berubah, bisa direkayasa. Karena itu, keduanya memikul tanggung jawab untuk merawatnya, tidak hanya sebagai dokumen masa lalu, tetapi juga sebagai bahan untuk membentuk masa depan.

Baca Juga: Ada apa dengan karya sastra dan pembelajaran Bahasa Indonesia?

Sastra merekam perasaan zaman: ketakutan, harapan, kegembiraan, kekecewaan. Budaya merekam cara hidup zaman, bagaimana kita makan, membangun rumah, menamai anak, atau mengubur orang mati.

Keduanya saling mengisi, ketika salah satunya hilang, yang lain akan pincang. Tanpa karya-karya sastra, kita mungkin tahu fakta sejarah, tetapi kita tidak akan merasakan denyut emosionalnya sebagaimana terekam dalam puisi atau prosa.

Tanpa pengarsipan budaya, kita mungkin membaca kisah rakyat, tetapi kehilangan konteks ritual, pakaian, atau bunyi yang mengiringinya.

Saya membayangkan sastrawan dan budayawan duduk di sebuah meja yang sama, minum kopi, saling bertukar catatan.

Baca Juga: Istana tanggapi keraguan ekonom soal pertumbuhan 5,12 persen: Pemerintah selalu jujur soal data

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X