ESAI: Dunia telah berganti rupa entah untuk kemenangan siapa

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 9 Juli 2025 | 06:15 WIB
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)

Sejarah kelam itu selain melahirkan penderitaan di lingkungan kelas pekerja, kapitalis gurem dan pekerja informal era yang disebut Bung Karno Malaise itu juga melahirkan berkah tersembunyi bagi negeri-negeri seberang lautan (jajahan).

Isu pembebasan (freedom), kedaulatan (Sovereignity) dan Social Justice berkembang di kalangan borjuis terdidik boemi poetera.

Baca Juga: Diserbu pembeli sejak hari pertama, Almaz Fried Chicken hadir di jantung Kota Subang

Pandemi virus mematikan

Pada era krisis kapitalisme generasi pertama, sebenarnya Bumi sudah mengingatkan manusia. Partikel-partikel asing dari limbah revolusi industri niscaya bermutasi menjadi virus berbahaya (common sense saya saja misal karena tidak tertibnya pembuangan limbah).

Mungkin saja ditemukannya virus berbahaya di Spanyol pada tahun 1918) terkait erat dengan perubahan alam yang begitu cepat.

Bumi pun mulai melakukan pembersihan lewat virus mematikan yang ditemukan di Spanyol pada tahun 1918.

Cara penanganannya juga mirip dengan serangan Covid yang pertama kali muncul di Wuhan pada Desember 2019. Yaitu jaga jarak dan penggunaan masker.

Baca Juga: Ayam goreng Saudi ALMAZ resmi dibuka di Subang, serap tenaga kerja lokal dan sisihkan laba untuk Palestina

Perubahan besar-besaran partikel yang membungkus lapisan bumi pasti sudah terjadi pada saat serangan virus 1918 (saya tidak tahu statusnya Pandemi atau bukan) meskipun tidak separah kerusakan pada akhir Abad XX ketika negara-negara yang baru merdeka berusaha mengejar ketertinggalan dengan melakukan industrialisasi besar-besaran.

Padahal di negara-negara yang kata Soekarno 'Oldefos' dampak revolusi industri telah merusak daya dukung lingkungan.

Menciptakan beragam krisis yang berujung meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Marshal Plan memang bisa memulihkan wajah Eropa dan Jepang menjadi sedigdaya sekarang. Tapi apakah daya dukung lingkungan mulai diperhitungkan oleh para pemburu laba?

Baca Juga: Aniaya kurir COD hingga terluka, oknum ASN di Pamekasan terancam 9 tahun penjara

Mereka adalah thesis. Anti-thesisnya adalah generasi baru yang lahir setelah Perang Dunia II yang sebagian mulai sadar tentang alam di sekiranya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X