ESAI: Dunia telah berganti rupa entah untuk kemenangan siapa

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 9 Juli 2025 | 06:15 WIB
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)

Generasi baru ini mulai mengorganisir diri dengan tagline back to nature dengan segenap isu turunannya. Kesadaran lingkungan - meskipun mungkin hanya gula-gula - mulai masuk ke pemerintahan.

Menteri Lingkungan Hidup meskipun tidak dianggap penting-penting amat namun di Indonesia sudah ada sejak 1980-an.

Yang jelas, Kapitalisme dengan jargon Stabilitas dan pertumbuhan, makin menjauh dari filosofi dasar tangan tak terlihat Adam Smith.

Baca Juga: Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya tambah daftar panjang kecelakaan kapal di Selat Bali

Berbagi kemakmuran mungkin terjadi di negara-negara kapitalis generasi pertama yang maju melalui mekanisme pajak.

Namun tidak terjadi di negara-negara berkembang yang pada umumnya korup.

Bahkan muncul pula istilah Ersatz Capitalism yang dikenalkan Kunio Yoshihara untuk memotret gejala tumbuhnya kapitalisme seolah-olah yang diorkestrasi para pemburu riba.

Mereka patgulipat dengan kepala pemerintahan dan angkatan bersenjata untuk menjarah sumber daya alam suatu negara yang baru beberapa tahun merdeka.

Baca Juga: Kemenhub: KMP Tunu Pratama Jaya alami distress sebelum tenggelam di Selat Bali

Lingkungan hidup semakin hancur di samping terjadinya kekerasan di lingkungan masyarakat adat, petani, buruh dan lainnya dalam konflik penguasaan SDA maupun hubungan industri yang membuat wajah kapitalisme tampak serakah, brutal dan berdarah-darah.

Dari sana muncul isu demokratisasi, hak azasi manusia dan lingkungan hidup (era 1990-an). Terlebih setelah tumbangnya Uni Soviet, Amerika Serikat yang dianggap sebagai Leviathan

Demokrasi tidak bisa lagi berlindung di balik jargon kebebasan untuk menopang rezim korup, despotik dan bobrok yang selama ini menjadi sekutunya
Global Climate Change dan protokol-protokol lingkungan hidup yang diprakarsai PBB tidak menghentikan tabiat brutal kapitalis yang di awal Abad ke-21 membuai dunia dengan jargon share prosperity (berbagi kemakmuran) lewat pemberlakuan free trade area secara berkala dari tingkat regional, kawasan hingga global.

Baca Juga: Bukan Mulan Jameela, Tata Janeeta bagikan momen gemas soal persahabatannya dengan Maia Estianty

Bangkitnya populisme

Pada dekade awal abad milenial yang mengalami revolusi teknologi digital ini pula globalisasi dianggap kitab suci oleh para pemimpin dunia sekaligus merisaukan sebagian besar masyarakat yang cemas tergilas persaingan global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X