Energi fosil yang dalam pembakarannya memang menghasilkan polutan yang sepanjang Abad XX menginfeksi lapisan ozon.
Sejak itu isu lingkungan hidup yang diteriakkan para aktivis lingkungan hidup menjadi pembahasan penting para pemimpin dunia.
Pemanasan global
Di penghujung Abad XX perangai cuaca berubah ekstrim. Puisi Sapardi Djoko Damono 'Hujan di Bulan Juni' yang semula terkesan mengada-ada menjadi kenyataan.
Baca Juga: Pocil Subang bikin bangga! Presiden terkesan, Kakorlantas terharu, Bupati apresiasi
Batas musim kemarau dan penghujan tidak jelas. Tidak harus menunggu Oktober hingga Maret. Kapan pun hujan bisa datang.
Disertai banjir bandang yang membuat dunia acap kali berduka akibat keserakahan segelintir manusia yang ingin meraih laba sebanyak-banyaknya dengan tempo yang secepat-cepatnya.
Suhu bumi meningkat drastis. Hutan yang mestinya memproduksi oksigen ditebang habis. Paru-paru bumi terluka parah.
Hampir tidak bisa disembuhkan oleh sekedar himbauan lewat protokol-protokol lingkungan yang diinisiasi oleh PBB – hanya menjadi catatan yang ditulis di atas air.
Baca Juga: Dulu diantar jualan es, kini tembus ITB: Rumah anak penjual es di Ponorogo penuh trofi prestasi
Global Climate Change hanya dianggap pernyataan menjengkelkan aktivis kurang pekerjaan yang mengganggu pertumbuhan.
Semangat jaman yang mendewakan developmentalism bermutasi menjadi beragam jenis kapitalisme yang semakin brutal memangsa apa saja kebutuhan manusia yang disediakan oleh alam.
Setelah hutan habis, minyak terkuras, dan produktivitas tanah menurun akibat revolusi hijau yang meniscayakan penggunaan peptisida dan pupuk kimia besar-besaran, pertumbuhan sektor riil stagnan, gejala deindustrialisasi tampak dimana-mana, pemburu riba mulai mengakali sektor finansial sehingga pertumbuhan tanpa kaki itu terus menggelembung dan meletus lewat hancurnya secondary market sektor properti di Amerika Serikat pada 2008.
Baca Juga: DPRD Subang soroti komitmen transparansi Pemda dalam Rapat KUA-PPAS Perubahan 2025
Padahal sejarah telah mengingatkan, early capitalism era Revolusi Industri telah memicu krisis ekonomi dan politik berkepanjangan pada awal Abad 20 - bahkan melahirkan Perang Dunia I dan II sekaligus lenyapnya Kolonialisme.
Namun semua itu tidak pernah dijadikan pelajaran yang berharga bagi sejarah manusia.
Artikel Terkait
Hadiri Indonesia-Brazil Business Forum 2024, Prabowo: Kami ingin ciptakan lingkungan bisnis yang positif
Menteri LH pastikan PT GAG Nikel jalankan tambang sesuai kaidah lingkungan
ESAI: Tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejak
Jokowi angkat suara soal tambang nikel Raja Ampat: Kalau merusak lingkungan, harus dicabut
Cabut izin tambang di Pulau Wawonii, Menhut tegaskan komitmen lindungi lingkungan
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Pemkab Subang kampanyekan aksi nyata lawan polusi plastik
ESAI: Mantra, dialektika diksi dan kekacauan kata pada fosil-fosil puisi