ESAI: Dunia telah berganti rupa entah untuk kemenangan siapa

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 9 Juli 2025 | 06:15 WIB
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)

Populism pun mendapat tempat yang memukau di lingkungan orang kebanyakan dan bergerak dari kelompok pinggiran ke arus utama. Tahun 2017 pun ditahbiskan sebagai Year of Populisme.

Di tengah tajamnya pertentangan yang seolah difasilitasi oleh media sosial - atau kebenaran yang berangkat dari ilmu pengetahuan dikalahkan oleh prasangka dan ada pula yang menyebut Post Truth – tiba-tiba dunia dikejutkan serangan Covid-19 yang cepat mewabah ke penjuru dunia.

Baca Juga: Selain jalur diplomasi, DPR minta pemerintah pertimbangkan opsi militer untuk bebaskan selebgram WNI di Myanmar

Capitalism seolah terdiam sejenak - saya tidak tahu apakah sedang mengheningkan cipta, merancang strategi recovery atau sedang 'mati gaya'.

Tapi yang jelas langit yang setiap hari disiksa gas beracun untuk sementara dapat bernapas lega.

Perubahan besar, ujar Hariman Siregar, akan terjadi paska Covid-19. "Harus sehat, Lin. Biar kita bisa melihat perubahan besar apa yang akan terjadi. “

Nah, pesan itu yang membuat saya selama Pandemi lebih banyak mengisolasi diri, meskipun kadang-kadang nekad ke Yogya, Magelang, Semarang atau Palembang.

Baca Juga: Puan Maharani sebut pimpinan parpol akan kumpul usai putusan MK pisahkan pemilu

Namun saya taat Protokol Kesehatan. Setiap keluar rumah mengenakan masker, rajin cuci tangan dengan sabun dan dibilas air mengalir selama 20 detik, hand sanitizer tidak pernah absen dari tas selempang kecil yang saya bawa kemana-mana.

Dalam kurun 2 tahun sejak Pandemi ditetapkan pada 12 Maret 2020 tidak sedikit teman yang saya kenal dekat meninggal dunia. Di antaranya aktivis lingkungan seperti Chairil Syah dan Emmy Hafidz.

Protokol kesehatan itu mungkin seperti ketika naik motor memakai helm atau mengikatkan sabuk pengaman di pesawat-pesawat terbang atau mobil.

Kalau tidak mengenakannya mungkin tidak apa-apa. Namun zero tolerance ini penting diterapkan meskipun mungkin risiko ketularan di bawah 29 persen.

Baca Juga: Beda sehari, ini jadwal puasa Tasua dan Asyura versi pemerintah dan Muhammadiyah

Kini, tepatnya sejak 5 Mei 2023, World Health Organization (WHO) mengumumkan Pandemi Covid-19 telah berakhir.

Pengguna angkutan umum pun sebagian sudah melepas masker tidak terkecuali penumpang kereta api jarak jauh, lokal maupun commuter.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X