ESAI: Tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejak

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 12 Juni 2025 | 23:23 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Pernyataan bahwa 'tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejakadalah provokasi yang menarik, sekaligus mengandung inti kebenaran yang patut direnungkan.

Jika kita memandang sejarawan hanya sebagai kronikus belaka, yang tugasnya sekadar mendata peristiwa lampau secara faktual, maka memang benar, peran mereka tidak lebih dari 'pencatat jejak'.

Namun, melalui lensa illuminatif dan transendental, kita akan melihat bahwa peran sejarawan jauh melampaui itu, mereka adalah penjelajah ruh peradaban, penafsir makna tersembunyi, dan bahkan arsitek memori kolektif yang membentuk masa kini dan masa depan.

Baca Juga: Bupati Reynaldy: Pembangunan Subang dimulai dari utara, rumah sakit Pantura siap dibangun 2028

Pendekatan illuminatif: Menyingkap cahaya di balik kegelapan data

Dalam pendekatan illuminatif, sejarawan tidak hanya mengumpulkan fakta, tetapi juga mencari 'cahaya' atau makna yang tersembunyi di balik tumpukan data.

Mereka adalah penafsir yang berusaha memahami mengapa peristiwa terjadi, apa signifikansinya bagi manusia, dan bagaimana hal itu membentuk kesadaran kolektif.

Ini bukan sekadar merekonstruksi masa lalu, melainkan meneranginya dengan interpretasi yang mendalam.

Sejarawan dengan pendekatan ini menyadari bahwa dokumen, artefak, dan kesaksian bukanlah cermin murni dari realitas, melainkan jejak-jejak yang seringkali terdistorsi, tersembunyi, atau sengaja disembunyikan.

Baca Juga: Polres Subang ungkap 16 kasus narkoba, 18 tersangka diamankan dalam operasi April–Juni 2025

Mereka harus melakukan 'pencarian cahaya' di antara fragmen-fragmen tersebut. Ini melibatkan:

Hermeneutika sejarah: Kemampuan menafsirkan teks dan konteksnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Hans-Georg Gadamer dalam Truth and Method, pemahaman bukanlah penyerapan pasif, melainkan sebuah dialog antara penafsir dan teks, di mana prasangka dan horizon pemahaman penafsir berperan dalam membentuk makna.

Sejarawan tidak hanya membaca kata-kata, tetapi juga 'membaca' keheningan, intensi, dan implikasi di balik kata-kata itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X