Tanpa kekacauan ini, kosmos kata akan menjadi 'museum yang bisu,' seperti yang saya sebutkan, statis dan mati.
Sebagai Hukum Kosmik, 'MANTRA' menjadi kunci di sini. Dalam banyak tradisi, mantra adalah ucapan yang memiliki kekuatan untuk mengubah realitas, bukan hanya mendeskripsikannya.
Dalam kosmologi sastra, puisi dengan 'kekacauan kata' adalah mantra yang mengaktifkan kembali fosil-fosil diksi.
Ia bukan lagi sekadar representasi realitas, melainkan aksi penciptaan realitas baru melalui bahasa.
Kata-kata, yang dulunya 'terperangkap' dan 'terpaksa,' kini melalui mantra puisi ini, menemukan agensi mereka sendiri untuk berontak dan bermanifestasi dalam bentuk yang tak terduga.
Voltaire mewakili pandangan kosmologi sastra yang teratur, di mana rasionalitas adalah penguasa.
Namun, esai ini, melalui intervensi Kafka dan Umberto Eco, mengusulkan kosmos yang lebih kompleks. Kafka menunjukkan bagaimana bahasa bisa menjadi alat penindas, sebuah labirin tanpa akhir.
Baca Juga: Menteri PU terpukul anak buah kena OTT KPK di Sumut: Ini benar-benar tamparan keras
Puisi yang mengacaukan diksi adalah upaya untuk membakar labirin itu, menciptakan 'terobosan linguistik' yang bukan penemuan, melainkan kehancuran tatanan lama demi kelahiran tatanan baru yang lebih cair dan tidak terduga.
Kosmologi sastra versi saya sendiri adalah tentang fluiditas dan metamorfosis, bukan fiksasi.
Pada akhirnya, esai ini adalah sebuah undangan untuk melihat puisi bukan hanya sebagai seni kata, tetapi sebagai arena di mana kekuatan-kekuatan fundamental bahasa berinteraksi: keteraturan makna yang mengeras, pemberontakan yang membebaskan, dan dialektika yang tak berkesudahan antara keduanya.
Ini adalah sebuah mantra yang mengajak kita untuk merangkul kegilaan linguistik dan menemukan pencerahan dalam kekacauan. Itu saja!
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
ESAI: Membedah anatomi kauniyah, geomorfologi sastra, semiotika, dan filsafat fluiditas
ESAI: Aktivisme dan kesadaran intelektual, jejak panjang dari ruang akademik ke medan perubahan