Di setiap zaman, aktivisme selalu lahir dari kesadaran: kesadaran akan ketimpangan, ketidakadilan, atau kekosongan suara rakyat.
Namun, kesadaran itu tak tumbuh dari ruang hampa. Ia seringkali lahir dan menguat di ruang-ruang intelektual kampus, ruang baca, diskusi senyap, hingga tulisan yang menggugat tatanan.
Aktivisme adalah anak kandung dari perenungan dan keberanian, dan kaum intelektual serta akademisi adalah rahim tempat ia digerakkan.
Dari pena ke aksi: Sejarah yang tak terhapus
Kita bisa menengok sejarah Indonesia, di mana perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan bermula dari kalangan pelajar dan akademisi.
Boedi Oetomo didirikan oleh para mahasiswa STOVIA, sekolah kedokteran zaman kolonial.
Pergerakan nasional awal pun banyak digerakkan oleh tokoh-tokoh terdidik, mereka yang sudah terpapar bacaan, wacana Eropa, dan nilai-nilai kemerdekaan.
Masuk ke era Orde Lama dan Orde Baru, wajah aktivisme pun berganti rupa.
Dari ruang kelas dan forum-forum diskusi, lahir nama-nama seperti Soe Hok Gie, Arief Budiman, hingga Hariman Siregar.
Mereka tak hanya membaca dan menulis, tapi juga turun ke jalan. Dalam kata Soe Hok Gie yang terkenal: 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.'
Baca Juga: Laura Meizani hadapi sidang Vadel Badjideh: Saatnya korban bicara, saatnya kebenaran diungkap
Kalimat itu bukan hanya bentuk protes, tapi refleksi dari keberanian intelektual untuk tak tunduk pada kuasa.
Mengapa kaum intelektual?
Kaum intelektual dan akademisi memiliki bekal: akses terhadap pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan daya analisis yang tajam.
Mereka bukan sekadar tahu bahwa sebuah kebijakan bermasalah, tetapi mampu menunjukkan mengapa itu bermasalah dan apa alternatifnya.
Artikel Terkait
Penyair Wiji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
ESAI: Aktivis tanpa karya, ibarat obor tanpa api
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer