ESAI: Aktivisme dan kesadaran intelektual, jejak panjang dari ruang akademik ke medan perubahan

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 3 Juli 2025 | 03:56 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Di setiap zaman, aktivisme selalu lahir dari kesadaran: kesadaran akan ketimpangan, ketidakadilan, atau kekosongan suara rakyat.

Namun, kesadaran itu tak tumbuh dari ruang hampa. Ia seringkali lahir dan menguat di ruang-ruang intelektual kampus, ruang baca, diskusi senyap, hingga tulisan yang menggugat tatanan.

Aktivisme adalah anak kandung dari perenungan dan keberanian, dan kaum intelektual serta akademisi adalah rahim tempat ia digerakkan.

Dari pena ke aksi: Sejarah yang tak terhapus

Kita bisa menengok sejarah Indonesia, di mana perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan bermula dari kalangan pelajar dan akademisi.

Baca Juga: Pulau kecil Bali-NTB diduga jatuh ke tangan asing, Menteri ATR/BPN: Kepemilikan oleh WNA tak boleh terjadi di republik ini

Boedi Oetomo didirikan oleh para mahasiswa STOVIA, sekolah kedokteran zaman kolonial.

Pergerakan nasional awal pun banyak digerakkan oleh tokoh-tokoh terdidik, mereka yang sudah terpapar bacaan, wacana Eropa, dan nilai-nilai kemerdekaan.

Masuk ke era Orde Lama dan Orde Baru, wajah aktivisme pun berganti rupa.

Dari ruang kelas dan forum-forum diskusi, lahir nama-nama seperti Soe Hok Gie, Arief Budiman, hingga Hariman Siregar.

Mereka tak hanya membaca dan menulis, tapi juga turun ke jalan. Dalam kata Soe Hok Gie yang terkenal: 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.'

Baca Juga: Laura Meizani hadapi sidang Vadel Badjideh: Saatnya korban bicara, saatnya kebenaran diungkap

Kalimat itu bukan hanya bentuk protes, tapi refleksi dari keberanian intelektual untuk tak tunduk pada kuasa.

Mengapa kaum intelektual?

Kaum intelektual dan akademisi memiliki bekal: akses terhadap pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan daya analisis yang tajam.

Mereka bukan sekadar tahu bahwa sebuah kebijakan bermasalah, tetapi mampu menunjukkan mengapa itu bermasalah dan apa alternatifnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X