ESAI: Mantra, dialektika diksi dan kekacauan kata pada fosil-fosil puisi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 4 Juli 2025 | 21:05 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

"Aku ingin menjadi metafora tentang kesepian abadi seorang seniman!" Ini bukan lagi sekadar penyimpangan makna, melainkan sebuah kudeta semiotis.

Umberto Eco, jika masih hidup, mungkin akan menumpahkan kopinya melihat keberanian sebuah 'lemari es' dalam memberontak dari sistem tanda yang telah mapan, sebuah 'karya terbuka' yang melampaui batas-batas interpretasi yang wajar (The Open Work, 1962).

Ia mungkin akan berargumen bahwa, meskipun tanda memiliki kelenturan, ada titik di mana 'niat ensiklopedis' dari sebuah kata (yakni, apa yang secara konvensional kita pahami darinya) benar-benar diinjak-injak oleh kehendak puitis yang absurd.

Baca Juga: Bahlil: Indonesia punya SDA, China punya teknologi, proyek baterai listrik jadi kolaborasi kunci masa depan

Fenomena ini mengingatkan kita pada eksperimen pikiran Schrödinger's Cat, namun dalam ranah linguistik: apakah sebuah kata masih memiliki makna aslinya jika ia dipaksa untuk berfungsi dalam konteks yang sepenuhnya absurd?

Para ahli semiotika, seperti Umberto Eco sendiri, mungkin akan berpendapat bahwa setiap tanda selalu terbuka terhadap interpretasi, namun ada batasnya.

Ketika 'garpu' menjadi 'kesendirian sebatang pohon pinus yang merindukan hujan', kita tidak lagi berbicara tentang polisemi, melainkan tentang delusi diksi yang akut (A Theory of Semiotics, 1976).

Data menunjukkan, berdasarkan studi fiktif yang baru saja saya lakukan, bahwa 99 persen pembaca akan mengalami krisis eksistensial ringan setelah membaca puisi semacam itu, sementara 1 persen sisanya justru menemukan pencerahan zen yang tak terduga.

Baca Juga: Tak biasanya hadir di groundbreaking, Prabowo dapat sorotan khusus dari Bahlil

Voltaire, dengan segala akal sehat dan satirismenya, mungkin akan mencibir, "Jika Tuhan menciptakan bahasa, Ia pasti sedang bercanda ketika menciptakan diksi yang memberontak ini!" (Candide, 1759, mungkin ada edisi yang hilang).

Baginya, ini adalah kegagalan akal budi, sebuah anomali yang menolak untuk tunduk pada logika pencerahan.

Lalu, bagaimana dengan humor dalam anomali ini? Kelucuan muncul dari ketegangan antara ekspektasi dan realitas.

Ketika kita membaca 'sepasang kaus kaki merajut fajar di cakrawala', otak kita, yang terbiasa dengan logika Aristoteles, akan mengalami korsleting kecil.

Inilah momen jenaka yang seringkali disalahartikan sebagai 'makna mendalam' oleh para kritikus sastra yang terlalu serius, tapi miskin referensi.

Baca Juga: Duka selebritas Indonesia atas kepergian Diogo Jota: Kita kehilangan nomor 20 dan gelar ke-20

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X