"Aku ingin menjadi metafora tentang kesepian abadi seorang seniman!" Ini bukan lagi sekadar penyimpangan makna, melainkan sebuah kudeta semiotis.
Umberto Eco, jika masih hidup, mungkin akan menumpahkan kopinya melihat keberanian sebuah 'lemari es' dalam memberontak dari sistem tanda yang telah mapan, sebuah 'karya terbuka' yang melampaui batas-batas interpretasi yang wajar (The Open Work, 1962).
Ia mungkin akan berargumen bahwa, meskipun tanda memiliki kelenturan, ada titik di mana 'niat ensiklopedis' dari sebuah kata (yakni, apa yang secara konvensional kita pahami darinya) benar-benar diinjak-injak oleh kehendak puitis yang absurd.
Fenomena ini mengingatkan kita pada eksperimen pikiran Schrödinger's Cat, namun dalam ranah linguistik: apakah sebuah kata masih memiliki makna aslinya jika ia dipaksa untuk berfungsi dalam konteks yang sepenuhnya absurd?
Para ahli semiotika, seperti Umberto Eco sendiri, mungkin akan berpendapat bahwa setiap tanda selalu terbuka terhadap interpretasi, namun ada batasnya.
Ketika 'garpu' menjadi 'kesendirian sebatang pohon pinus yang merindukan hujan', kita tidak lagi berbicara tentang polisemi, melainkan tentang delusi diksi yang akut (A Theory of Semiotics, 1976).
Data menunjukkan, berdasarkan studi fiktif yang baru saja saya lakukan, bahwa 99 persen pembaca akan mengalami krisis eksistensial ringan setelah membaca puisi semacam itu, sementara 1 persen sisanya justru menemukan pencerahan zen yang tak terduga.
Baca Juga: Tak biasanya hadir di groundbreaking, Prabowo dapat sorotan khusus dari Bahlil
Voltaire, dengan segala akal sehat dan satirismenya, mungkin akan mencibir, "Jika Tuhan menciptakan bahasa, Ia pasti sedang bercanda ketika menciptakan diksi yang memberontak ini!" (Candide, 1759, mungkin ada edisi yang hilang).
Baginya, ini adalah kegagalan akal budi, sebuah anomali yang menolak untuk tunduk pada logika pencerahan.
Lalu, bagaimana dengan humor dalam anomali ini? Kelucuan muncul dari ketegangan antara ekspektasi dan realitas.
Ketika kita membaca 'sepasang kaus kaki merajut fajar di cakrawala', otak kita, yang terbiasa dengan logika Aristoteles, akan mengalami korsleting kecil.
Inilah momen jenaka yang seringkali disalahartikan sebagai 'makna mendalam' oleh para kritikus sastra yang terlalu serius, tapi miskin referensi.
Baca Juga: Duka selebritas Indonesia atas kepergian Diogo Jota: Kita kehilangan nomor 20 dan gelar ke-20
Artikel Terkait
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
ESAI: Membedah anatomi kauniyah, geomorfologi sastra, semiotika, dan filsafat fluiditas
ESAI: Aktivisme dan kesadaran intelektual, jejak panjang dari ruang akademik ke medan perubahan