ESAI: Mantra, dialektika diksi dan kekacauan kata pada fosil-fosil puisi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 4 Juli 2025 | 21:05 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Setiap kata memiliki sejarah, sebuah garis keturunan makna yang telah membentuknya selama berabad-abad.

Baca Juga: Usai tinjau proyek di Karawang, Prabowo langsung gelar rapat virtual: Bahas ketahanan nasional hingga industri strategis

'Meja' adalah tempat kita makan, 'cinta' adalah emosi yang mendalam, dan 'batu' adalah benda padat.

Ini adalah fosil diksi; makna-makna ini telah mengeras, menjadi pakem yang kita terima begitu saja.

Seperti kerangka dinosaurus yang utuh, mereka memberikan struktur dan kejelasan pada komunikasi kita.

Tanpa fosil-fosil ini, bahasa akan menjadi cair, tak berbentuk, dan tak mungkin untuk dipahami.

Namun, di sinilah letak ketegangan dialektisnya. Kebanyakan puisi justru hidup dari upaya untuk memecah belenggu fosil ini.

Baca Juga: Menpan-RB tegaskan: Skema WFA bagi ASN bukan kewajiban, hanya opsi jika instansi siap

Penyair ingin mendobrak makna-makna yang terpaku, mencari kelenturan baru, dan memberi kehidupan pada kata-kata yang dianggap mati.

Ketika sebuah kata, katakanlah 'senyum,' tiba-tiba muncul dalam puisi bukan sebagai ekspresi kebahagiaan, melainkan sebagai 'kilatan petir yang merobek langit malam,' terjadilah kekacauan kata. Ini bukan lagi sekadar metafora biasa; ini adalah pemberontakan semiotis.

Senyum, sebagai fosil diksi, seharusnya membawa cahaya dan kehangatan. Namun, di tangan penyair pemberontak, ia berubah menjadi kekuatan destruktif, sebuah anomali yang mengguncang fondasi makna.

Kekacauan ini adalah bagian penting dari dialektika puisi. Ia menantang penerima untuk melampaui batas pemahaman literal dan masuk ke ranah interpretasi yang lebih dalam, lebih personal, dan seringkali, lebih absurd.

Baca Juga: Viral dugaan pungli petugas Dishub, Gubernur Pramono Anung perintahkan pemeriksaan: Tak bisa dibiarkan

Dalam kekacauan inilah, pembaca dipaksa untuk membangun kembali jembatan makna mereka sendiri, seringkali dengan tawa atau keheranan.

Ini adalah momen di mana bahasa menunjukkan kapasitasnya yang tak terbatas untuk berinovasi, meskipun terkadang dengan cara yang sangat tidak terduga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X