ESAI: Mantra, dialektika diksi dan kekacauan kata pada fosil-fosil puisi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 4 Juli 2025 | 21:05 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Baca Juga: Diogo Jota tewas dalam kecelakaan tragis di Spanyol, dunia sepakbola berduka

Epistemologi tradisional sering mengedepankan logika, observasi, dan validasi berulang. Namun, esai ini justru menyiratkan bahwa ada bentuk pengetahuan yang muncul dari pemberontakan.

Ketika 'senyum' menjadi 'kilatan petir,' kita tidak lagi mengenali senyum dalam pengertian konvensional, melainkan mengetahui ulang potensinya sebagai kekuatan destruktif.

Ini adalah bentuk pengetahuan intuitif, bahkan mungkin subversif, yang menolak dikotomi benar/salah dan merangkul ambiguitas.

Peran ketidaknyamanan kognitif dalam esai ini menyebutkan 'krisis eksistensial ringan' atau 'korsleting kecil' pada otak pembaca.

Dalam epistemologi, ketidaknyamanan kognitif semacam ini seringkali menjadi pemicu untuk pembelajaran baru.

Baca Juga: Luhut temui Jokowi, doakan kesembuhan dan soroti pentingnya menghargai pemimpin terdahulu

Efek Zeigarnik semiotis yang saya kutip menegaskan bahwa kekosongan atau keanehan mendorong pikiran untuk mencari resolusi.

Dengan demikian, puisi yang mengacaukan kata-kata tidak hanya menghibur, tetapi juga secara aktif merangsang pembentukan pengetahuan baru tentang batas-batas bahasa dan realitas.

Ini adalah cara mengetahui yang tidak linier, melainkan melompat dan meliuk seperti mantra yang diucapkan.

Jika epistemologi berbicara tentang bagaimana kita mengetahui, kosmologi sastra berusaha memahami bagaimana alam semesta kata ini tersusun dan beroperasi.

Esai ini melukiskan sebuah kosmos linguistik yang tidak statis, melainkan dinamis, bahkan anarkis.

Baca Juga: Menteri Karding klarifikasi pernyataannya soal kerja ke luar negeri: Tugas saya lindungi dan tempatkan pekerja migran

Alam semesta akan terus bernapas. Fosil diksi memberikan tulang punggung alam semesta ini, kerangka intuitif yang memungkinkan kita mampu mengidentifikasi 'bintang' dan 'galaksi' makna.

Namun, kekacauan kata adalah napas dari alam semesta itu juga. Ia adalah gaya gravitasi yang kadang menarik kata-kata ke orbit baru, atau bahkan melontarkannya ke dimensi makna yang belum terjamah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X