ESAI: Tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejak

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 12 Juni 2025 | 23:23 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Arnold J. Toynbee dalam A Study of History berpendapat bahwa peradaban muncul dan jatuh berdasarkan responnya terhadap tantangan, dan bahwa ada pola-pola spiritual yang mendasari siklus sejarah.

Dimensi etis dan spiritual sejarah

Bagi sejarawan transendental, sejarah mengandung pelajaran moral dan spiritual.

Mereka tidak takut untuk menilai tindakan masa lalu berdasarkan prinsip-prinsip etika universal, atau untuk mencari jejak-jejak kebijaksanaan dan spiritualitas yang mungkin telah terlupakan.

Ini bukan berarti menghakimi masa lalu dengan standar masa kini, tetapi mencari nilai-nilai yang melampaui batasan waktu. Misalnya, bagaimana nilai-nilai toleransi atau keadilan telah diwujudkan atau dilanggar sepanjang sejarah, dan apa implikasinya bagi kita sekarang.

Baca Juga: Menteri Bahlil minta warga bijak tanggapi foto dugaan kerusakan Raja Ampat yang viral

Narasi sebagai penciptaan makna

Sejarawan, dalam arti transendental, adalah pencerita (storyteller) yang merangkai fakta-fakta menjadi narasi yang koheren. Namun, narasi ini bukan fiksi.

Sebagaimana dikemukakan oleh Hayden White dalam Metahistory, narasi sejarah itu sendiri adalah sebuah konstruksi, sebuah cara kita memberi makna pada kekacauan peristiwa.

Melalui narasi, sejarawan tidak hanya merekam jejak, tetapi juga membentuk memori kolektif, dan dengan demikian, mempengaruhi identitas dan arah suatu bangsa.

Mereka membantu kita memahami 'siapa kita' dan 'hendak ke mana kita' melalui cermin masa lalu.

Baca Juga: 4 Perusahaan tambang nikel di Raja Ampat dicabut izinnya, berpotensi terkena pidana

Sejarawan dan kampus: Sebuah hubungan simbiotik

Meskipun sejarawan 'tidak dilahirkan oleh kampus' dalam artian pengalaman dan kepekaan intuitif mereka, kampus dan institusi akademik tetaplah vital. Kampus adalah tempat di mana:

1. Metodologi diajarkan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X