ESAI: Tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejak

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 12 Juni 2025 | 23:23 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Sejarah ide dan mentalitas

Lebih dari sekadar peristiwa politik atau ekonomi, sejarawan illuminatif menyelami bagaimana manusia di masa lalu berpikir, merasa, dan memandang dunia.

Baca Juga: Mensesneg ungkap pesan khusus Megawati untuk Prabowo: Jaga pemerintahan dan persatuan

Karya-karya seperti Marc Bloch dan Lucien Febvre dari Mazhab Annales adalah contoh bagaimana sejarah mentalitas (misalnya, kepercayaan pada mukjizat, persepsi waktu) dihidupkan kembali, memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang kompleksitas jiwa manusia di suatu era.

Sejarah lisan dan subaltern

Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi suara-suara yang seringkali terpinggirkan dalam narasi arus utama.

Dengan mendengarkan kesaksian lisan dan meneliti sumber-sumber dari kelompok subaltern, sejarawan dapat menyalakan cahaya pada pengalaman-pengalaman yang sebelumnya terabaikan, memberikan perspektif yang lebih inklusif dan multidimensional tentang masa lalu.

Ranajit Guha dengan konsep Subaltern Studies di India, misalnya, menunjukkan bagaimana sejarah dapat ditulis dari bawah, mengungkap resistensi dan agensi yang seringkali diabaikan dalam narasi kolonial.

Baca Juga: Mensesneg tegaskan hadiah Rolex dari Prabowo untuk Timnas bukan dari anggaran negara

Lensa transendental: Menjelajah ruh dan makna eksistensial

Jika pendekatan illuminatif adalah tentang menyingkap makna di balik fakta, maka lensa transendental membawa sejarawan melampaui fakta dan makna itu sendiri, menuju pemahaman tentang ruh peradaban, nilai-nilai abadi, dan bahkan tujuan eksistensial manusia dalam arus waktu.

Ini adalah dimensi filosofis yang menganggap sejarah bukan hanya rentetan peristiwa, tetapi juga manifestasi dari gagasan-gagasan besar, perjuangan moral, dan pencarian makna hidup.

Sejarah sebagai cermin kondisi manusia

Sejarawan yang menggunakan lensa transendental melihat bahwa setiap peristiwa sejarah, entah itu perang, revolusi, atau penciptaan mahakarya, adalah cerminan dari kondisi manusia yang universal: ambisi, ketakutan, harapan, dan pencarian kebenaran.

Baca Juga: Timnas Indonesia dibantai Jepang 6-0, Ricky Kambuaya kembali tampil meski hanya raih rating 4,6

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X