Mengenang Raminten: Sejarah dan warisan budaya kuliner sarat budaya dari almarhum Hamzah Sulaiman

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 24 April 2025 | 21:55 WIB
House of Raminten di Yogyakarta (raminten.com)
House of Raminten di Yogyakarta (raminten.com)

GENMILENIAL.ID - Nama Raminten telah menjadi ikon kuliner sekaligus simbol budaya di Yogyakarta.

Di balik popularitas nama tersebut, tersimpan sosok visioner yang tak hanya piawai dalam berbisnis, tetapi juga berjasa besar dalam melestarikan budaya Jawa, beliau adalah Hamzah Sulaiman.

Tokoh multitalenta ini dikenal sebagai seniman, pengusaha, sekaligus budayawan, yang menciptakan konsep unik yang memadukan kuliner dengan kekayaan tradisi lokal.

Hamzah Sulaiman, yang dikenal luas dengan julukan Raminten, berpulang pada Rabu, 23 April 2025 dalam usia 75 tahun di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Baca Juga: Ikon legendaris Yogyakarta, Hamzah Sulaiman meninggal dunia, pemilik House of Raminten yang lestarikan budaya dari masa ke masa

Gelar kehormatan dari Kraton Yogyakarta

Sejarah Raminten juga tak lepas dari kehormatan yang disandang Hamzah.

Ia menerima gelar kebangsawanan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kraton Yogyakarta, dengan nama Kanjeng Mas Tumenggung Hamijinindyo.

Gelar ini menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi beliau dalam pelestarian seni, budaya, dan kontribusinya dalam dunia usaha yang memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota budaya.

Hamzah juga merupakan pemilik Hamzah Batik, yang sebelumnya dikenal dengan nama Mirota Batik Malioboro, salah satu pusat oleh-oleh dan batik terkenal di kawasan Malioboro.

Baca Juga: Membaca masa depan AI Indonesia: Kolaborasi pemerintah, komunitas, dan dunia usaha di CITCOM CONNEXT 2025

Lahirnya sosok Raminten dari dunia peran

Nama 'Raminten' awalnya bukanlah nama bisnis, melainkan karakter fiksi yang diperankan oleh Hamzah Sulaiman dalam sebuah acara komedi situasi yang tayang di stasiun televisi lokal, Jogja TV.

Dalam acara tersebut, Hamzah memerankan sosok perempuan Jawa paruh baya lengkap dengan busana tradisional—berkebaya, memakai jarik, dan berkonde.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Sumber: raminten.com, Instagram @houseoframinten

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X