ESAI : PPDB Sistem zonasi dan fenomena ‘Nyaah Dulang’

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 6 Juni 2024 | 13:27 WIB
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan

Baca Juga: Wajib tahu, ini 7 minuman yang dipercaya bisa tingkatkan kecerdasan otak dan daya ingat

Sudah saatnya guru beserta pimpinan sekolah membuktikan bahwa mereka mampu sejajar dengan sekolah-sekolah berlabel favorit. 

Hal ini tentunya dapat dicapai dengan adanya program-program yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan, pemenuhan kebutuhan sarana sekolah dan bermuara pada meningkatnya mutu layanan pendidikan kepada peserta didik. 

Dengan demikian, adanya anggapan bahwa sistem zonasi menghalangi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan terbaik menjadi tidak relevan. 

Kedua, peningkatan mutu layanan sekolah bukanlah semata - mata tanggungjawab pihak manajemen sekolah maupun pemerintah. 

Baca Juga: DPRD Subang gelar Rapat Paripurna Raperda Bantuan Hukum, tinggal persetujuan provinsi, Pj. Bupati harap bisa berikan rasa keadilan bagi masyarakat

Maju atau tidaknya sekolah juga ditentukan oleh sejauh mana partisipasi masyarakat dalam menyukseskan program-program yang dicanangkan oleh sekolah. 

Oleh karena itu, masukan dan bantuan berupa tenaga, pikiran, atau bahkan dana dari para orangtua sangatlah diharapkan.

Artinya, sangat tidak bijak apabila kita ingin mendapatkan layanan yang terbaik dari sekolah sementara kita sendiri tidak bersedia memberikan sumbangsih bagi kemajuan sekolah. 

Ketiga, adanya pergeseran paradigma pembelajaran di abad 21 yang perlu dipahami oleh orangtua. 

Baca Juga: Sempat jalani perawatan di RS Hamori, korban pengeroyokan geng motor meninggal dunia, Pj. Bupati harap kejadian serupa tidak terulang lagi di Subang

Diberlakukannya Kurikulum 2013 sejak beberapa tahun silam sejatinya dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan hadirnya sebuah konsep pembelajaran yang mampu memberikan bekal kepada generasi saat ini untuk menjawab berbagai tantangan di masa yang akan datang. 

Adapun kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis  serta bertindak kreatif atau yang lebih dikenal dengan istilah 4C (communication, collaboration, critical thinking and creativity) menjadi modal dasar bagi mereka yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah untuk mampu menghadapi persaingan global.  

Dalam konteks PPDB dengan sistem zonasi, siswa yang memiliki prestasi sangat baik di sekolah sebelumnya diharapkan tidak hanya berkumpul pada satu sekolah saja, melainkan disebar ke seluruh sekolah. 

Dengan demikian, setiap sekolah akan memiliki siswa unggulan yang diharapkan mampu membagi pengalaman serta prestasinya dengan rekan-rekannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X