Berkaca pada setiap peristiwa bangsa ini, setiap momen perubahan sosial dan politik di Indonesia, selalu dimulai dari sebuah gerakan-gerakan kecil anak-anak muda terpelajar.
Gerakan-gerakan kecil itu dimulai dari diskusi-diskusi kelompok, yang kemudian berjalan dengan membangun ruang-ruang publik yang sehat.
Gerakan ini kemudian tumbuh menjadi sebuah kesadaran kolektif, bahwa membangun peradaban masyarakat tidak bisa dikerjakan sendiri.
Membangun peradaban harus dibangun secara bersama-sama, yang tentunya dengan orang-orang yang memiliki spirit dan frekuensi yang sama.
Baca Juga: Lantik 150 PPK Pilkada 2024, Ketua KPU Subang minta para PPK tegak lurus sesuai aturan
Dalam perjalanan negeri ini, bahkan sebelum bangsa Indonesia merdeka, gerakan perubahan sosial itu tidak dibangun dari sekelompok anak-anak muda yang tidak mempunyai arah dan tujuan hidup.
Aktivisme yang melekat dalam diri mereka bukan hanya sekedar sebutan yang hanya sekedar ingin menunjukan bahwa diri mereka eksis untuk bisa dikenal publik.
Reputasi para aktivis yang hampir sebagian besar dipelopori oleh anak-anak muda pergerakan jelas memiliki kontribusi besar dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat, bahwa mereka memperjuangkan kehidupan masyarakat dan bangsanya.
Anak-anak muda terpelajar ini tidak diam dalam sikap apatisme ketika melihat ketidakadilan begitu nyata dihadapanya, tapi mereka berbuat dan melakukan sesuatu dengan segala hal apa yang bisa mereka lakukan.
Kita akan bangga, saat kita membaca tentang bagaimana anak-anak muda di masa lalu punya peran besar dalam hidupnya, yang tidak hanya diributkan pada persoalan-persoalan kecil yang remeh temeh.
Dalam sejarah pergerakan Budi Utomo misalnya, peran besar anak-anak muda terpelajar, para mahasiswa dan alumni School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa begitu luar biasa,
Bahkan awal-awal pembentukanya, perintis Budi Utomo yaitu dr. Wahidin Soedirohusodo sampai harus berkeliling ke kota-kota besar di pulau jawa untuk menyebarkan gagasanya mengenai bantuan beasiswa bagi para pelajar pribumi yang berprestasi agar bisa melanjutkan sekolah.
Sampai akhirnya ide itu kemudian diterima oleh dr. Sutomo dan kawan-kawanya yang kemudian mendirikan Budi Utomo, yaitu organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan budaya.
Artikel Terkait
ESAI : Membangun kesadaran toleransi dikalangan pelajar, membuka jalan menuju masyarakat harmonis
ESAI : Urgensi moderasi beragama dalam pendidikan Islam bagi generasi milenial
ESAI : Spirit Sumpah Pemuda dan persiapan pemilu serentak 2024
ESAI : Mengenang tragedi semanggi 1998, perjuangan demokrasi dan darah para demonstran
ESAI : Rendahnya minat baca pada anak
ESAI : Moderasi beragama
ESAI : Bukan sekolah di negeri dongeng