Pada tanggal 23 September 2025 sebanyak 193 negara hadir dalam debat umum sidang Majelis Umum (General Assembly) PBB yang ke 80 di Amerika Serikat.
Yang menarik dari sesi pidato oleh para pemimpin negara anggota PBB adalah diapresiasinya konten pidato Presiden Prabowo oleh para pemimpin dunia dengan standing ovation dan aksi menghampiri ke Presiden Prabowo para pemimpin negara dengan mengucapkan selamat atas pidato presiden yang aktual, faktual dan linear dengan kondisi kekinian tragedi krisis kemanusiaan yang terjadi di negara Palestina.
Bahkan tidak ketinggalan Presiden Trump pun memuji pidato Presiden Prabowa yang singkat dan padat tetapi disampaikan dengan bahasa dan retorika pesan kemanusiaan, perdamaian dan persatuan serta saling menghargai dan menghormati sebagai sebuah keluarga manusia (family of human) tanpa melihat asal-usul bahasa, budaya, suku dan bangsa.
Satu kata kunci yang membuat pidato Presiden Prabowo diterima oleh semua peserta sidang umum adalah pesan perdamaian (peace) dan sisi kemanusiaan (humanity for mankind).
Menciptakan perdamaian abadi (perpetual peace)
Pada tahun 1795 adalah Immanuel Kant seorang filosof Jerman yang mencetuskan ide atau gagasan tentang perdamaian abadi (perpetual peace).
Dalam esainya yang terkenal 'Toward Perpetual Peace’, Kant menyampaikan bahwa perdamaian abadi tidak dapat diciptakan hanya dengan perdamaian sesaat (temporary) seperti gencatan senjata (ceasefire) tetapi dengan perdamaian yang abadi,' To be perpetual, a peace must not merely be temporary, like a ceasefire, but lasting, demikian tegas Kant dalam esainya.
Baca Juga: Menag akui minimnya anggaran pesantren, pembangunan ulang Ponpes Al Khoziny akan dibiayai APBN
Pidato Presiden Prabowo dan materi materi pidato para pemimpin dunia yang menyoroti perang di zaman modern atau bahkan genosida yang terjadi di Palestina yang dilakukan oleh zionis Israel yang terus menerus berlangsung sejak 1948 seakan mengkonfirmasi kebenaran pernyataan Kant tersebut.
Sudah berapa ribu gencatan senjata yang merupakan tindakan penghentian sementara perang atau konflik namun terus terulang dengan berbagai dalih dan motif atau alasan politik dan kepentingan politik dari zionis Israel.
Perang dan krisis kemanusiaan di Palestina yang saat terjadi telah banyak menelan korban tanpa dosa yang didominasi oleh rakyat sipil dari unsur kaum wanita dan anak anak, wartawan dan relawan aktifis kemanusiaan yang berlatarbelakang warga negara yang berbeda-beda tanpa terlibat langsung dalam perang semakin menjadikan masyarakat dan dunia internasional geram, prihatin dan mengutuk kekejaman Israel.
Solidaritas Kemanusiaan Yang Tidak Terbendung
Hal yang mengejutkan dari Sidang Umum Tahunan PBB 2025 adalah dengan pengakuan dari anggota PBB yang memiliki hak veto (Inggris, Perancis, Rusia, dan China) dan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara Merdeka dan berdaulat, sehingga hanya 1 negara yang memiliki hak veto yaitu Amerika Serikat yang menolak atas kemerdekaan Palestina sebagai negara.
Menurut hemat penulis, Presiden Prabowo memiliki pesan pidato yang sangat kekinian dan merupakan hal umum atau pemahaman yang sama (common sense) dari mayoritas negara-negara anggota PBB yang menghendaki perdamaian, persatuan dan kesatuan bangsa dengan landasan kemanusiaan yang universal.
Artikel Terkait
Empat negara barat akui Palestina, Netanyahu murka: Tak akan ada negara Palestina di barat Yordan
Pengakuan Palestina oleh Inggris dan sekutunya picu ancaman aneksasi Israel, jadi harapan baru perdamaian
Drama mikrofon mati di sidang PBB: Dari Erdogan, Prabowo, hingga Carney, pesan pro Palestina tetap bergema
Pidato Prabowo di PBB: Dari luka penjajahan, Palestina merdeka, hingga janji swasembada pangan
ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme
Indonesia di PBB: Komitmen finansial untuk Palestina dan UNRWA tak bisa ditawar
5 Poin kritis proposal perdamaian Gaza ala Trump-Netanyahu, dari pemerintahan transisi hingga masa depan Palestina