Cinta di tengah api sejarah, tragedi sunyi 'Tanah Terbelah' yang mengiris hati

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 2 Juni 2026 | 16:47 WIB
Tanah Terbelah (1948) karya Fileski Walidha Tanjung mengangkat kisah cinta Darmawan dan Marni di tengah konflik Madiun yang penuh ketegangan, menggambarkan pertemuan dua dunia yang berseberangan dalam balutan sejarah, harapan, dan kehilangan
Tanah Terbelah (1948) karya Fileski Walidha Tanjung mengangkat kisah cinta Darmawan dan Marni di tengah konflik Madiun yang penuh ketegangan, menggambarkan pertemuan dua dunia yang berseberangan dalam balutan sejarah, harapan, dan kehilangan

 

GENMILENIAL.ID – Novel Tanah Terbelah karya Fileski Walidha Tanjung menghadirkan kisah yang tidak sekadar bercerita tentang cinta, tetapi juga tentang luka yang lahir dari sejarah.

Berlatar Madiun tahun 1948, cerita ini membawa pembaca masuk ke dalam suasana kota yang perlahan berubah dari tenang menjadi penuh ketegangan.

Di tengah kondisi tersebut, dua tokoh utama, Darmawan dan Marni, dipertemukan oleh sebuah sore yang sederhana di Sumber Wangi, sebuah sudut tenang di dekat Balai Kota.

Tempat itu menjadi ruang bagi keduanya untuk saling mengenal, di saat dunia di sekeliling mereka mulai retak tanpa suara.

Darmawan digambarkan sebagai pemuda yang tumbuh di lingkungan priyayi, dekat dengan kekuasaan, dan terbiasa menjalani hidup dengan penuh perhitungan.

Sementara Marni hadir sebagai sosok yang berbeda, gadis desa yang tumbuh dalam kerasnya kehidupan rakyat kecil, dengan keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan yang selama ini dianggap biasa.

Cinta tumbuh di waktu yang salah

Pertemuan yang awalnya sederhana perlahan berubah menjadi hubungan yang hangat dan tulus.

Di tengah suasana yang kian mencekam, kehadiran satu sama lain menjadi harapan kecil yang memberi arti. Namun, harapan itu tidak tumbuh di waktu yang tepat.

Ketegangan mulai merambat ke desa-desa, rasa curiga muncul di antara masyarakat, dan keadaan semakin sulit dipahami.

Darmawan dan Marni pun dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa mereka berdiri di dua sisi yang berbeda.

Pertemuan mereka menjadi semakin jarang, dipenuhi rahasia, sekaligus dibayangi rasa takut kehilangan.

Meski demikian, keduanya tetap berusaha mempertahankan keyakinan sederhana bahwa cinta masih layak diperjuangkan, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka seakan menolak keberadaannya.

Konflik, kehilangan, dan akhir yang sunyi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X