esai

ESAI: Dunia telah berganti rupa entah untuk kemenangan siapa

Rabu, 9 Juli 2025 | 06:15 WIB
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)

Energi fosil yang dalam pembakarannya memang menghasilkan polutan yang sepanjang Abad XX menginfeksi lapisan ozon.

Sejak itu isu lingkungan hidup yang diteriakkan para aktivis lingkungan hidup menjadi pembahasan penting para pemimpin dunia.

Pemanasan global

Di penghujung Abad XX perangai cuaca berubah ekstrim. Puisi Sapardi Djoko Damono 'Hujan di Bulan Juni' yang semula terkesan mengada-ada menjadi kenyataan.

Baca Juga: Pocil Subang bikin bangga! Presiden terkesan, Kakorlantas terharu, Bupati apresiasi

Batas musim kemarau dan penghujan tidak jelas. Tidak harus menunggu Oktober hingga Maret. Kapan pun hujan bisa datang.

Disertai banjir bandang yang membuat dunia acap kali berduka akibat keserakahan segelintir manusia yang ingin meraih laba sebanyak-banyaknya dengan tempo yang secepat-cepatnya.

Suhu bumi meningkat drastis. Hutan yang mestinya memproduksi oksigen ditebang habis. Paru-paru bumi terluka parah.

Hampir tidak bisa disembuhkan oleh sekedar himbauan lewat protokol-protokol lingkungan yang diinisiasi oleh PBB – hanya menjadi catatan yang ditulis di atas air.

Baca Juga: Dulu diantar jualan es, kini tembus ITB: Rumah anak penjual es di Ponorogo penuh trofi prestasi

Global Climate Change hanya dianggap pernyataan menjengkelkan aktivis kurang pekerjaan yang mengganggu pertumbuhan.

Semangat jaman yang mendewakan developmentalism bermutasi menjadi beragam jenis kapitalisme yang semakin brutal memangsa apa saja kebutuhan manusia yang disediakan oleh alam.

Setelah hutan habis, minyak terkuras, dan produktivitas tanah menurun akibat revolusi hijau yang meniscayakan penggunaan peptisida dan pupuk kimia besar-besaran, pertumbuhan sektor riil stagnan, gejala deindustrialisasi tampak dimana-mana, pemburu riba mulai mengakali sektor finansial sehingga pertumbuhan tanpa kaki itu terus menggelembung dan meletus lewat hancurnya secondary market sektor properti di Amerika Serikat pada 2008.

Baca Juga: DPRD Subang soroti komitmen transparansi Pemda dalam Rapat KUA-PPAS Perubahan 2025

Padahal sejarah telah mengingatkan, early capitalism era Revolusi Industri telah memicu krisis ekonomi dan politik berkepanjangan pada awal Abad 20 - bahkan melahirkan Perang Dunia I dan II sekaligus lenyapnya Kolonialisme.

Namun semua itu tidak pernah dijadikan pelajaran yang berharga bagi sejarah manusia.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB