ESAI: Dinamika ketertarikan dan meninggalkan agama di negara-negara maju

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 13 April 2025 | 15:45 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Dalam diskursus mengenai korelasi antara kemajuan suatu negara dan tingkat religiusitas warganya, muncul berbagai pandangan yang menantang asumsi tradisional.

Beberapa pihak berpendapat bahwa negara-negara dengan mayoritas penduduk religius cenderung kurang maju, sementara negara-negara maju menunjukkan penurunan dalam praktik keagamaan.

Namun, apakah hubungan ini bersifat kausal atau sekadar korelasi belaka?

Portugal, misalnya, meskipun memiliki sejarah Katolik yang kuat, kini menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan.

Baca Juga: Polsek Pagaden tangkap residivis empat kali bui dalam kasus tipu gelap motor

Fenomena gereja-gereja yang ditinggalkan di Eropa, yang kemudian diubah menjadi masjid oleh komunitas Muslim imigran, mencerminkan dinamika demografis dan perubahan sosial yang kompleks.

Menurut data, sekitar 6.3 persen populasi Inggris adalah Muslim, dengan angka konversi sekitar 5,200 orang per tahun.

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua gereja yang ditinggalkan diubah menjadi masjid; beberapa dialihfungsikan untuk keperluan lain atau dibiarkan kosong.

Terkait klaim bahwa imigran Muslim di Inggris sering terlibat dalam keributan dan kriminalitas, data menunjukkan gambaran yang lebih nuansa.

Baca Juga: Kanwil Kemenkumham Jabar kawal kasus kekerasan terhadap jurnalis di Subang

Analisis akademis menunjukkan bahwa imigran tidak meningkatkan tingkat kriminalitas dan memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi dan sistem kesehatan.

Selain itu, klaim bahwa pencari suaka di Inggris menyumbang 14.3 persen dari tersangka kejahatan serius tidak didukung oleh bukti yang kuat. 

Mengenai pandangan bahwa mayoritas ilmuwan adalah atheis, penelitian oleh Elaine Howard Ecklund mengungkap bahwa 36 persen ilmuwan di AS memiliki beberapa bentuk kepercayaan kepada Tuhan, sementara 34 persen mengidentifikasi diri sebagai ateis.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat proporsi ateisme yang lebih tinggi di kalangan ilmuwan dibandingkan populasi umum, masih ada sejumlah signifikan yang memegang keyakinan religius.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X