ESAI: Dinamika ketertarikan dan meninggalkan agama di negara-negara maju

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 13 April 2025 | 15:45 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Warga Binong ditemukan tewas di Sungai Tarum Timur, diduga tenggelam saat memancing

Fenomena konversi ke Islam di negara-negara Barat juga menarik perhatian. Di Inggris, sekitar 5,200 orang masuk Islam setiap tahunnya, dengan mayoritas adalah perempuan.

Di Amerika Serikat, sekitar 25 persen dari populasi Muslim adalah mualaf, banyak di antaranya adalah orang Afrika-Amerika.

Motivasi di balik konversi ini beragam, termasuk pencarian makna spiritual, ketertarikan pada ajaran Islam, dan pengalaman pribadi.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah kemajuan material dan kemapanan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan dan kepuasan batin.

Baca Juga: Bupati Subang ungkap target pembangunan dalam acara 'Ngobras' bareng Aa Sule

Filsuf seperti Søren Kierkegaard telah lama berargumen bahwa manusia memiliki 'kekosongan eksistensial' yang tidak dapat diisi oleh pencapaian duniawi semata.

Dalam konteks ini, agama menawarkan dimensi transendental yang memberikan makna dan tujuan hidup, yang mungkin menjelaskan mengapa individu di negara maju mencari spiritualitas meskipun telah mencapai kemapanan material.

Namun, penting untuk menghindari generalisasi yang menyederhanakan hubungan antara religiositas dan kemajuan.

Negara-negara seperti Jepang menunjukkan bahwa masyarakat dapat mencapai tingkat kemajuan tinggi dengan tingkat religiositas yang berbeda.

Baca Juga: Aktivis Subang desak polisi usut aktor intelektual di balik pengeroyokan jurnalis

Sebaliknya, beberapa negara dengan tingkat religiositas tinggi menghadapi tantangan dalam pembangunan.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kebijakan publik, pendidikan, dan budaya memainkan peran penting dalam menentukan arah kemajuan suatu negara.

Dalam menganalisis hubungan antara religiositas dan kemajuan, kita dihadapkan pada kompleksitas interaksi antara nilai-nilai spiritual dan material.

Alih-alih melihat keduanya sebagai dikotomi yang berlawanan, mungkin lebih produktif untuk mempertimbangkan bagaimana keduanya dapat saling melengkapi dalam membentuk masyarakat yang sejahtera dan bermakna. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X