“Aku tidak ingin—”
“Kau harus ingin.” Ia menekan botol itu ke dadaku, dinginnya meresap menembus kain. “Tanpa ingatan, kau hanya akan memilih demi dirimu sendiri. Dan itu… berbahaya.”
Bocah itu berdiri di tepian balkon, memandangku dengan mata besar yang penuh air. “Kalau ayah kembali ke atas… aku akan… lupa ayah.”
Udara di sini terasa berat, mengandung rasa logam yang pahit di lidah. Tanganku gemetar saat memegang botol itu, bukan karena dinginnya, tapi karena di dalam diriku ada sesuatu yang ingin menolaknya sekaligus meraihnya.
Aku membuka tutupnya, aroma seperti batu basah di musim hujan menyeruak. Saat cairan perak itu menyentuh bibirku, giginya langsung menggigit kerongkongan.
Baca Juga: Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah
Kilatan menyambar pikiranku: aku di atas tembok kota ini, tombak di tangan, langit retak memuntahkan makhluk hitam dari air.
Lirien berteriak memberi perintah, matanya menyala seperti bara. Bocah itu—tertawa di taman cahaya, mengejar kupu-kupu perak sambil memanggilku ayah.
Lalu, malam ketika aku pergi. Pohon raksasa dunia atas berdiri di depanku, cahaya di akar-akarnya berdenyut seperti jantung. Aku melangkah, meninggalkan kota ini demi dunia yang nyata, membiarkan cahaya mereka meredup satu demi satu.
Napas kembali, tapi di dadaku ada beban yang menusuk. “Aku… pernah mengkhianati kalian,” bisikku.
Baca Juga: Wamen Haji Dahnil Anzar: Legalisasi umrah mandiri justru lindungi jemaah dan pelaku travel
Lirien hanya menatap, dingin. “Sekarang kau tahu kenapa aku memanggilmu kembali.”
Bocah itu menggenggam jariku, tapi jemarinya seperti kabut, ada, lalu hampir lenyap.
Dari bawah balkon, angin membawa bunyi ketukan itu lagi, samar, tapi teratur… seolah menghitung waktu yang tersisa.
“Kau tahu pilihannya,” kata Lirien. “Selamatkan mereka… atau selamatkan kami.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan