Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 16:03 WIB
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh (Instagram.com/@keretacepat_id)
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh (Instagram.com/@keretacepat_id)

GENMILENIAL.ID – Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) kembali jadi sorotan publik. Bukan lagi karena kecepatannya, melainkan karena tingginya utang, kabut transparansi kontrak, dan ketidakjelasan arah pembayaran yang kini menimbulkan dilema baru bagi pemerintah.

Proyek senilai 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp120,6 triliun itu dibangun dengan semangat simbolik sebagai tonggak kemajuan infrastruktur modern Indonesia.

Namun di balik gemerlap pencapaiannya, terdapat bayang-bayang beban finansial besar yang masih membelit hingga kini.

Baca Juga: Wamen Haji Dahnil Anzar: Legalisasi umrah mandiri justru lindungi jemaah dan pelaku travel

Mahfud MD pertanyakan isi kontrak dengan China

Mantan Menko Polhukam Mahfud MD kembali menyoroti proyek ini lewat kanal YouTube pribadinya pada Sabtu, 25 Oktober 2025.

Ia menyinggung soal ketertutupan kontrak kerja sama antara Indonesia dan China dalam proyek tersebut.

“Kita belum tahu jelas isi kontrak Indonesia dan China dalam proyek ini. Bahkan seorang anggota DPR mengatakan tidak tahu isi kontraknya,” ujarnya.

“Apakah dokumen kontrak tersebut bisa diakses publik secara utuh?” tambah Mahfud.

Baca Juga: Adu argumen Menkeu Purbaya vs Dedi Mulyadi viral, Helmy Yahya sebut dua gaya komunikasi kuat: Koboi vs spontanitas

Pertanyaan Mahfud menegaskan kegelisahan lama publik, mengapa proyek sebesar ini tidak sepenuhnya transparan, bahkan kepada lembaga legislatif yang memiliki fungsi pengawasan.

Pembengkakan biaya dan penolakan penggunaan APBN

Proyek Whoosh digarap oleh konsorsium Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), dengan porsi saham 60 persen Indonesia dan 40 persen China.

Namun seiring berjalannya waktu, proyek mengalami cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS (Rp19,9 triliun), sehingga total investasinya menembus lebih dari Rp120 triliun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X