Pecahannya memercikkan cahaya perak yang memancar ke bawah. Dunia atas menyala, langitnya terbelah oleh matahari yang belum pernah ada.
Sorak-sorai meledak di sana. Dan di sekitarku, kota ini mulai runtuh. Dindingnya merekah, potongan logam menguap jadi debu.
Baca Juga: Gerakan edukasi halal UMKM dorong pemuda dan pelaku usaha Subang jadi pendamping produk halal
Bocah itu memeluk kakiku, tubuhnya ringan seperti udara, lalu pecah menjadi butiran cahaya yang ikut terbang ke atas, menuju matahari yang baru.
Lirien tidak bergerak. Hanya menatapku dengan mata yang menyimpan sesuatu di antara amarah dan belas kasihan.
“Kau memutuskan. Dan kau akan hidup dengan itu.”
“Aku akan mengingat kalian,” suaraku hampir hilang.
Ia menggeleng pelan. “Bayangan tidak diingat. Bayangan hanya pernah ada.”
Baca Juga: Motoran ke desa, gaya kepemimpinan Kang Rey yang dekat dengan warga Cisalak
Saat mataku terbuka, aku berdiri di bawah pohon raksasa. Matahari hangat di wajahku. Lentera di pinggang menyala tenang.
Di tanah, bayanganku berdiri sendiri. Tak ada kota. Tak ada ketukan. Hanya aku… dan dunia yang kali ini benar-benar nyata.***
S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HIMA DIWANGKARA Pendidikan Bahasa Jawa STKIP PGRI Ponorogo. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan