CERPEN: Negeri di atas meja siap saji

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 23 Juli 2025 | 21:06 WIB
Ilustrasi - Negeri di atas meja siap saji
Ilustrasi - Negeri di atas meja siap saji

Di sudut kota yang lebih piawai menghapus ingatan ketimbang mencatat janji, berdirilah sebuah warung kecil, miring seperti doa yang ditertawakan langit yang pelupa.

Atapnya tambalan baliho caleg gagal, tiangnya digigiti rayap, mungkin dulu juga ikut kampanye, lalu kecewa.

Setiap pagi, dari warung itu mengepul aroma nasi dan harapan, dibungkus rapi, bukan untuk dikenang, tapi untuk dilupakan sesaat setelah kenyang.

Di meja reyot tempat kami biasa menghitung kembalian dan membedah wacana utang, negeri ini kerap terasa seperti tayangan iklan, penuh janji, minim kenyataan.

Baca Juga: Hokky Caraka somasi 5 netizen, bukan karena kritik tapi pelecehan terhadap kekasih

Di sanalah Emak menyuapi kesabaran, bukan lauk. Bapak meracik sambal seperti menambal defisit negara, dengan tangan yang dulu pernah gemetar menggenggam upah harian yang tak sepadan.

Orang-orang memanggilku Darul Halim, anak warung dari gang sempit yang lebih hafal harga beras ketimbang pasal dalam konstitusi.

Delapan belas tahun aku hidup dari bau dapur dan debu kebijakan, tumbuh bersama aroma nasi yang tak pernah cukup dan berita pagi yang lebih suka menepuk bahu penguasa.

Bapak bukan lulusan ekonomi, tapi tiap sendok sambalnya tahu persis arti defisit dan ketimpangan.

Baca Juga: Batal nikah di Italia, Luna Maya dan Maxime Bouttier pilih Bali demi undang lebih banyak tamu

Warung kami tak pernah diberi nama,tapi dikenal orang sekampung karena rasanya yang jujur dan harganya yang tak pernah ikut naik meski harga moral menukik.

Sampai pagi itu datang, membawa keganjilan. Udara terasa seolah menahan berita buruk.

Seorang lelaki dari rumah paling megah di ujung gang, yang lebih sering menampilkan pagar dan AC-nya ketimbang wajah penghuninya, datang membawa amplop pesanan.

“Mak, ini beneran dari rumah Pak Camat?” tanyaku pelan, nyaris berbisik. Takut kenyataan menyahut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X