Di sudut kota yang lebih piawai menghapus ingatan ketimbang mencatat janji, berdirilah sebuah warung kecil, miring seperti doa yang ditertawakan langit yang pelupa.
Atapnya tambalan baliho caleg gagal, tiangnya digigiti rayap, mungkin dulu juga ikut kampanye, lalu kecewa.
Setiap pagi, dari warung itu mengepul aroma nasi dan harapan, dibungkus rapi, bukan untuk dikenang, tapi untuk dilupakan sesaat setelah kenyang.
Di meja reyot tempat kami biasa menghitung kembalian dan membedah wacana utang, negeri ini kerap terasa seperti tayangan iklan, penuh janji, minim kenyataan.
Baca Juga: Hokky Caraka somasi 5 netizen, bukan karena kritik tapi pelecehan terhadap kekasih
Di sanalah Emak menyuapi kesabaran, bukan lauk. Bapak meracik sambal seperti menambal defisit negara, dengan tangan yang dulu pernah gemetar menggenggam upah harian yang tak sepadan.
Orang-orang memanggilku Darul Halim, anak warung dari gang sempit yang lebih hafal harga beras ketimbang pasal dalam konstitusi.
Delapan belas tahun aku hidup dari bau dapur dan debu kebijakan, tumbuh bersama aroma nasi yang tak pernah cukup dan berita pagi yang lebih suka menepuk bahu penguasa.
Bapak bukan lulusan ekonomi, tapi tiap sendok sambalnya tahu persis arti defisit dan ketimpangan.
Baca Juga: Batal nikah di Italia, Luna Maya dan Maxime Bouttier pilih Bali demi undang lebih banyak tamu
Warung kami tak pernah diberi nama,tapi dikenal orang sekampung karena rasanya yang jujur dan harganya yang tak pernah ikut naik meski harga moral menukik.
Sampai pagi itu datang, membawa keganjilan. Udara terasa seolah menahan berita buruk.
Seorang lelaki dari rumah paling megah di ujung gang, yang lebih sering menampilkan pagar dan AC-nya ketimbang wajah penghuninya, datang membawa amplop pesanan.
“Mak, ini beneran dari rumah Pak Camat?” tanyaku pelan, nyaris berbisik. Takut kenyataan menyahut.
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Sinopsis buku 'Islam dan Sosialisme' karya HOS Tjokroaminoto
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'