CERPEN: Kota di atas bayangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 21:33 WIB
Ilustrasi - Kota di atas bayangan
Ilustrasi - Kota di atas bayangan

Aku berdiri di antara dua dunia, di depan, permukaan hitam itu memantulkan dunia atas, pasar, pohon, langit yang mungkin akan hidup kembali; di belakang, kota ini bergetar seperti sedang merintih, dindingnya mengeluarkan nada panjang yang seolah memohon.

Baca Juga: Adu argumen Menkeu Purbaya vs Dedi Mulyadi viral, Helmy Yahya sebut dua gaya komunikasi kuat: Koboi vs spontanitas

Botol di tanganku berdenyut cepat, seperti jantung yang takut mati. Bocah itu menatapku. Bukan tatapan seorang anak, tapi tatapan seseorang yang sudah memahami arti kehilangan. “Ayah… tolong.”

Lirien berdiri di ambang kabut, wajahnya pucat tapi tegas. “Pilih sekarang.”

Detak jantungku menyesak di telinga. Aku melihat dunia atas di bawah sana—retakannya makin lebar, cahaya yang tersisa hanya berdenyut pelan.

Tapi aku juga melihat kota ini, tempat yang dulu pernah kupanggil rumah, yang menunggu tanpa suara.

Tanganku mengangkat botol itu. Jemariku bergetar, seolah botol ini menolak digenggam oleh pemiliknya sendiri. “Sebentar,” bisikku, “satu tarikan napas lagi.”

Baca Juga: Setelah Patrick Kluivert mundur, Bung Binder kritik permainan Garuda: Dulu 6 poin, sekarang acak-acakan

Bocah itu masih berdiri di tepi balkon, matanya berkilat oleh air yang hampir jatuh. Suaranya parau, seperti ditahan di kerongkongan. “Ayah…” Hanya satu kata, tapi terasa lebih berat daripada dunia mana pun yang harus kupilih.

Lirien tidak bergerak. Hanya tatapan matanya yang menusuk, dingin namun menyimpan sesuatu yang tak bisa kujelaskan, amarah, kasih, dan dendam sekaligus.

Di mataku, dua dunia ini bertindihan. Pasar dunia atas dengan cahaya yang berdenyut lemah, dan balkon kota bayangan yang bergetar seakan merintih. Dua bayangan yang sama-sama enggan lepas dari tubuhnya.

Dadaku sesak. Aku tahu apa pun pilihanku, aku akan menjadi pengkhianat, entah bagi mereka, entah bagi diriku sendiri.

Baca Juga: Mahfud MD soroti dominasi pihak China di proyek Whoosh: Saham Indonesia 60 persen, tapi jabatan strategis dikuasai ekspatriat

Aku bukan hanya pejuang yang membawa cahaya, bukan hanya pengelana yang singgah di antara dunia, bahkan bukan sepenuhnya ayah bagi bocah itu.

Aku hanyalah manusia yang terjepit di antara dua kebenaran yang sama-sama haus pengorbanan. Nafasku pecah, dan bersama itu, botol terlepas dari tanganku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X