Aku berdiri di antara dua dunia, di depan, permukaan hitam itu memantulkan dunia atas, pasar, pohon, langit yang mungkin akan hidup kembali; di belakang, kota ini bergetar seperti sedang merintih, dindingnya mengeluarkan nada panjang yang seolah memohon.
Botol di tanganku berdenyut cepat, seperti jantung yang takut mati. Bocah itu menatapku. Bukan tatapan seorang anak, tapi tatapan seseorang yang sudah memahami arti kehilangan. “Ayah… tolong.”
Lirien berdiri di ambang kabut, wajahnya pucat tapi tegas. “Pilih sekarang.”
Detak jantungku menyesak di telinga. Aku melihat dunia atas di bawah sana—retakannya makin lebar, cahaya yang tersisa hanya berdenyut pelan.
Tapi aku juga melihat kota ini, tempat yang dulu pernah kupanggil rumah, yang menunggu tanpa suara.
Tanganku mengangkat botol itu. Jemariku bergetar, seolah botol ini menolak digenggam oleh pemiliknya sendiri. “Sebentar,” bisikku, “satu tarikan napas lagi.”
Bocah itu masih berdiri di tepi balkon, matanya berkilat oleh air yang hampir jatuh. Suaranya parau, seperti ditahan di kerongkongan. “Ayah…” Hanya satu kata, tapi terasa lebih berat daripada dunia mana pun yang harus kupilih.
Lirien tidak bergerak. Hanya tatapan matanya yang menusuk, dingin namun menyimpan sesuatu yang tak bisa kujelaskan, amarah, kasih, dan dendam sekaligus.
Di mataku, dua dunia ini bertindihan. Pasar dunia atas dengan cahaya yang berdenyut lemah, dan balkon kota bayangan yang bergetar seakan merintih. Dua bayangan yang sama-sama enggan lepas dari tubuhnya.
Dadaku sesak. Aku tahu apa pun pilihanku, aku akan menjadi pengkhianat, entah bagi mereka, entah bagi diriku sendiri.
Aku bukan hanya pejuang yang membawa cahaya, bukan hanya pengelana yang singgah di antara dunia, bahkan bukan sepenuhnya ayah bagi bocah itu.
Aku hanyalah manusia yang terjepit di antara dua kebenaran yang sama-sama haus pengorbanan. Nafasku pecah, dan bersama itu, botol terlepas dari tanganku.
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan