Aku tiba di Taman Ismail Marzuki pada suatu sore yang terasa seperti akhir zaman yang belum disadari, meskipun gema azan dari Masjid Amir Hamzah mengisyaratkan permulaan yang baru.
Langit di atas TIM berwarna abu-abu kebiruan, seperti tabir yang perlahan tersingkap, dan awan-awan berbentuk tangan-tangan berdoa yang tak henti-hentinya menengadah.
Di pelataran masjid, yang karpetnya terasa selembut doa yang tulus, duduklah seorang pria tua dengan jenggot memutih seperti kapas wahyu. Ia memakai topi fedora saat sholat asar.
Matanya menerawang jauh, bukan ke masa lalu, melainkan ke garis cakrawala yang belum terbentang.
Baca Juga: AKBP Ariek serahkan kepemimpinan Kapolres Subang kepada AKBP Dony Eko Wicaksono
Itu adalah Sutardji Calzoum Bachri, kini tak lagi sekadar Presiden Penyair, melainkan seorang Sultan Mantra, yang kata-katanya adalah jembatan menuju dimensi yang lebih tinggi.
Ia sedang melafalkan bukan lagi bait-bait puisi, melainkan ayat-ayat mantra yang belum tertulis, yang maknanya baru akan terungkap di kemudian hari sesudah orang-orang mati dibangkitkan dari kubur.
"Kiamat... bukan... akhir... tapi... awal... dari... kata... yang... belum... terucap!" gumamnya sesudah salam diucapkan, suaranya bergetar seperti lonceng purba yang memanggil ruh-ruh yang tersesat.
Aku mendekat, merasakan aura kedamaian namun juga ketegangan yang pekat.
"Assalamu'alaikum, Mas Tardji," bisikku, takut memecah konsentrasinya.
Sultan Mantra itu pun menoleh, tatapannya menembus diriku, seolah melihat jejak takdir di dalam setiap serat keberadaanku.
"Kau kah itu, Ahli Agama? Sedang mencari terang di tengah kegelapan yang disamarkan?" Sejak dulu Mas Tardji memang selalu memanggilku Ahli Agama, padahal sebenarnya aku ini Ahli Makan Bergizi Gratis.
Artikel Terkait
Mengenang sosok penyair Legenda Indonesia, Sapardi Djoko Damono
Salah satu penyair terbaik Indonesia, ini biografi singkat W.S Rendra
Mengenal lebih jauh penyair Pulo Lasman Simanjuntak dan karya sastranya
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'