Baca Juga: Kang Akur ajak pemuda Subang siap hadapi era industri: Generasi Emas 2045 milik anda!
“Aku tak peduli.” Botol masuk ke tas kulit di pinggang, tapi sebelum aku berdiri, kilau pucat di bawahku beriak.
Permukaannya berputar, membentuk wajah setenang marmer yang dingin, bibirnya bergerak membentuk satu kata: Pulang.
Lentera di pinggang padam. Di saat yang sama, tanah di bawahku pecah, dan aku jatuh. Dunia terbalik. Pohon-pohon memanjang, lilin mencair ke arah langit, lalu patah menjadi serpihan kaca melayang.
Tanah yang tadinya keras berubah licin seperti air, namun kakiku tidak tenggelam, malah meluncur, terseret arus tak terlihat. Suara ketukan ikut terbawa, nadanya kini nyaring berlapis gema, dipukul dari balik dinding besi raksasa.
Baca Juga: Cak Imin: Kamboja bukan tempat aman untuk pekerja migran Indonesia
Kemudian kilau dingin dari botol di tasku berdenyut makin cepat, seakan mencari arah pulang yang bukan untukku.
Lalu hentakan. Aku tersungkur di jalan basah mengilap bagai kaca hitam, diapit bangunan tinggi dari logam kusam. Mereka tidak berdiri di tanah—melainkan tergantung dari langit hitam, ujungnya menjuntai ke kegelapan yang tak berujung.
Suara langkah mendekat, teredam basah lantai logam. “Aku tahu kau akan kembali.”
Sosok perempuan muncul di ujung jalan. Gaun hitamnya menyapu lantai, setiap helainya seperti menyerap cahaya. Rambutnya jatuh sampai pinggang, dan matanya, perak cair, menangkap setiap gerakku.
“Siapa kau?” suaraku serak, setengah terengah.
Senyum tipis di bibirnya seperti retakan yang nyaris tak terlihat. “Seseorang yang pernah kau tinggalkan.”
Dari balik bahunya, langkah-langkah kecil terdengar. Seorang bocah muncul, napasnya memburu, lalu tanpa ragu memeluk pinggangku erat-erat.
“Ayah…” bisiknya.
Tubuhku menegang. “Aku tidak pernah punya anak.”
Perempuan itu mendekat. “Dia menunggumu sejak hari kau pergi membawa cahaya pertama. Sejak itu, setiap tetes yang kau ambil dari pohon atas… satu nyawa di sini padam.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan