CERPEN: Kota di atas bayangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 21:33 WIB
Ilustrasi - Kota di atas bayangan
Ilustrasi - Kota di atas bayangan

Baca Juga: Kang Akur ajak pemuda Subang siap hadapi era industri: Generasi Emas 2045 milik anda!

“Aku tak peduli.” Botol masuk ke tas kulit di pinggang, tapi sebelum aku berdiri, kilau pucat di bawahku beriak.

Permukaannya berputar, membentuk wajah setenang marmer yang dingin, bibirnya bergerak membentuk satu kata: Pulang.

Lentera di pinggang padam. Di saat yang sama, tanah di bawahku pecah, dan aku jatuh. Dunia terbalik. Pohon-pohon memanjang, lilin mencair ke arah langit, lalu patah menjadi serpihan kaca melayang.

Tanah yang tadinya keras berubah licin seperti air, namun kakiku tidak tenggelam, malah meluncur, terseret arus tak terlihat. Suara ketukan ikut terbawa, nadanya kini nyaring berlapis gema, dipukul dari balik dinding besi raksasa.

Baca Juga: Cak Imin: Kamboja bukan tempat aman untuk pekerja migran Indonesia

Kemudian kilau dingin dari botol di tasku berdenyut makin cepat, seakan mencari arah pulang yang bukan untukku.

Lalu hentakan. Aku tersungkur di jalan basah mengilap bagai kaca hitam, diapit bangunan tinggi dari logam kusam. Mereka tidak berdiri di tanah—melainkan tergantung dari langit hitam, ujungnya menjuntai ke kegelapan yang tak berujung.

Suara langkah mendekat, teredam basah lantai logam. “Aku tahu kau akan kembali.”

Sosok perempuan muncul di ujung jalan. Gaun hitamnya menyapu lantai, setiap helainya seperti menyerap cahaya. Rambutnya jatuh sampai pinggang, dan matanya, perak cair, menangkap setiap gerakku.

Baca Juga: LMKN dituding menyimpang dari amanat UU, para musisi siap gugat ke MA: Kami tak butuh laporan ke menteri, tapi ke pencipta lagu

“Siapa kau?” suaraku serak, setengah terengah.
Senyum tipis di bibirnya seperti retakan yang nyaris tak terlihat. “Seseorang yang pernah kau tinggalkan.”

Dari balik bahunya, langkah-langkah kecil terdengar. Seorang bocah muncul, napasnya memburu, lalu tanpa ragu memeluk pinggangku erat-erat.

“Ayah…” bisiknya.
Tubuhku menegang. “Aku tidak pernah punya anak.”

Perempuan itu mendekat. “Dia menunggumu sejak hari kau pergi membawa cahaya pertama. Sejak itu, setiap tetes yang kau ambil dari pohon atas… satu nyawa di sini padam.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X