CERPEN: Kota di atas bayangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 21:33 WIB
Ilustrasi - Kota di atas bayangan
Ilustrasi - Kota di atas bayangan

Baca Juga: Menkeu Purbaya siap blacklist pelaku impor pakaian bekas, Legislator DPR: Langkah strategis lindungi industri tekstil nasional

Aku menatap bocah itu. Matanya terlalu dewasa untuk wajah sekecil itu. “Tempat ini… apa?”

Ia menoleh ke langit hitam di atas kami. “Kota yang berdiri di atas bayangan dunia yang kau sebut rumah.”

Namanya Lirien—begitu ia menyebut dirinya—menyusuri lorong sempit. Dinding-dindingnya terbuat dari logam, memantulkan wajah kami dengan jeda setengah detik. Kadang, pantulan itu berkedip meski aku tidak.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanyaku.
“Kau sudah membawanya.” Tatapannya jatuh ke tas di pinggangku. “Cahaya itu.”

Baca Juga: ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan

Bocah itu menggenggam tanganku, kulitnya dingin seperti air sumur di musim hujan. “Kalau ayah mengembalikannya… kita bisa hidup lagi, kan?” suaranya hampir tenggelam dalam dengung logam.

Lirien berhenti di depan balkon besar yang menghadap ke kegelapan. Di bawah sana, terbentang air hitam pekat—tenang, nyaris sempurna—dan di bawah permukaan itu… dunia atas.

Pohon raksasa, rumah-rumah bambu, pasar kecil, bahkan lentera-lentera di malam hari. Semuanya terbalik, seperti lukisan yang tenggelam.

“Itu… kampungku.”
“Bukan.” Mata Lirien menyipit. “Itu hanya pantulan. Setiap kali kau mengambil cahaya dari pohon atas, pantulan itu menghisapnya. Dunia mereka tumbuh dari kehidupan kami, seperti akar mencuri air dari tanah lain.”

Baca Juga: Perang dagang AS-China mulai mencair: Negosiasi di Kuala Lumpur isyaratkan babak baru hubungan ekonomi global

Bocah itu melepaskan tanganku, berdiri di tepian balkon. “Kalau ayah berhenti… dunia di atas akan mati. Tapi… kalau ayah terus…”

“kami yang akan hilang,” sambung Lirien.
Aku menatap lagi ke permukaan hitam itu. Dunia atas tampak damai, tapi di sudut-sudutnya ada retakan cahaya—kelaparan yang tak terlihat dari dekat.

Lirien merogoh balik gaunnya, mengeluarkan botol kecil berisi cahaya perak yang berputar gelisah. Kilau itu memantul di dinding balkon, membuat bayangan kami bergoyang.

“Ini milikmu,” katanya, suaranya rendah tapi terasa menusuk. “Sisa nyawamu di sini. Minum… dan kau akan mengingat segalanya.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X