Aku menatap bocah itu. Matanya terlalu dewasa untuk wajah sekecil itu. “Tempat ini… apa?”
Ia menoleh ke langit hitam di atas kami. “Kota yang berdiri di atas bayangan dunia yang kau sebut rumah.”
Namanya Lirien—begitu ia menyebut dirinya—menyusuri lorong sempit. Dinding-dindingnya terbuat dari logam, memantulkan wajah kami dengan jeda setengah detik. Kadang, pantulan itu berkedip meski aku tidak.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanyaku.
“Kau sudah membawanya.” Tatapannya jatuh ke tas di pinggangku. “Cahaya itu.”
Baca Juga: ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan
Bocah itu menggenggam tanganku, kulitnya dingin seperti air sumur di musim hujan. “Kalau ayah mengembalikannya… kita bisa hidup lagi, kan?” suaranya hampir tenggelam dalam dengung logam.
Lirien berhenti di depan balkon besar yang menghadap ke kegelapan. Di bawah sana, terbentang air hitam pekat—tenang, nyaris sempurna—dan di bawah permukaan itu… dunia atas.
Pohon raksasa, rumah-rumah bambu, pasar kecil, bahkan lentera-lentera di malam hari. Semuanya terbalik, seperti lukisan yang tenggelam.
“Itu… kampungku.”
“Bukan.” Mata Lirien menyipit. “Itu hanya pantulan. Setiap kali kau mengambil cahaya dari pohon atas, pantulan itu menghisapnya. Dunia mereka tumbuh dari kehidupan kami, seperti akar mencuri air dari tanah lain.”
Bocah itu melepaskan tanganku, berdiri di tepian balkon. “Kalau ayah berhenti… dunia di atas akan mati. Tapi… kalau ayah terus…”
“kami yang akan hilang,” sambung Lirien.
Aku menatap lagi ke permukaan hitam itu. Dunia atas tampak damai, tapi di sudut-sudutnya ada retakan cahaya—kelaparan yang tak terlihat dari dekat.
Lirien merogoh balik gaunnya, mengeluarkan botol kecil berisi cahaya perak yang berputar gelisah. Kilau itu memantul di dinding balkon, membuat bayangan kami bergoyang.
“Ini milikmu,” katanya, suaranya rendah tapi terasa menusuk. “Sisa nyawamu di sini. Minum… dan kau akan mengingat segalanya.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Sujud mantra di Masjid Amir Hamzah
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan