GENMILENIAL.ID - Kisah haru datang dari seorang remaja asal Kabupaten Sragen yang sempat harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikan demi membantu keluarga.
Adalah Hendi Saputro, remaja dari Plosorejo, Bendungan, Kedawung, yang dulu terpaksa bekerja di bengkel setelah lulus sekolah dasar.
Sumber unggahan: Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI
Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar, Hendi justru harus menghadapi kenyataan pahit.
Ayahnya terserang stroke dan tidak lagi mampu bekerja, sementara ibunya telah meninggal dunia saat ia masih berusia 9 tahun.
Kondisi tersebut membuat Hendi tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
“Dulu lulus SD, saya mau lanjut SMP gak bisa karena bapak saya stroke, gak bisa menafkahi,” ujar Hendi.
Bertahan hidup dari kerja bengkel
Dalam keterbatasan, Hendi memilih bekerja di bengkel untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Baca Juga: Motor Suzuki Thunder terbakar di SPBU Ciledug, diduga akibat bensin meluap
Dari pekerjaan tersebut, ia hanya memperoleh sekitar Rp150 ribu per pekan. Uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk makan dan membantu adiknya.
Sementara itu, keluarganya juga hidup dalam kondisi serba sulit. Sang nenek harus mencari sisa karet untuk dijual, dan kakeknya bekerja sebagai juru kunci makam.
Kehidupan keras di usia muda itu membuat Hendi harus menunda mimpinya untuk bersekolah.
Artikel Terkait
Konstruksi Sekolah Rakyat tahap 1C dimulai, target rampung akhir Agustus 2025
Kemensos siapkan ribuan laptop dan seragam untuk siswa sekolah rakyat, Saifullah Yusuf: Tidak ada kongkalikong
Dari sekolah rakyat hingga irigasi desa, begini wujud nyata implementasi PU 608
Forum JPP Promedia hadirkan Sekjen Kemensos, bahas Sekolah Rakyat sebagai solusi putus rantai kemiskinan
Sekjen Kemensos Robben Rico ungkap 3 tujuan program Sekolah Rakyat, dari muliakan wong cilik hingga cetak agen perubahan
Sekjen Kemensos ungkap masalah kesehatan anak sekolah rakyat, dari gigi rusak hingga anemia
Cerita haru Sekjen Kemensos menjemput anak Sekolah Rakyat yang tinggal di pedalaman hutan Kalteng, rumahnya tak berlistrik