Baca Juga: Forum BUMDES Subang dorong pemberdayaan lewat beasiswa, BPJS Kesehatan, stunting, dan UMKM
3. Dialektika, epistemologi, dan peran literasi ilmu budaya
Pergeseran dari historiografi kolonial ke Indonesia-sentris adalah sebuah dialektika dalam pemahaman sejarah Indonesia.
Keduanya memiliki bias inheren karena dibangun berdasarkan perspektif dan agenda tertentu.
Epistemologi dalam Dialektika:
Secara epistemologis, konflik narasi ini menunjukkan bahwa 'fakta' sejarah tidak pernah lepas dari interpretasi.
Sejarawan tidak hanya melaporkan, tetapi juga memilih, menafsirkan, dan memberikan makna pada bukti-bukti yang ditemukan.
Subjektivitas Tak Terhindarkan: Baik sejarawan kolonial maupun nasionalis, pada dasarnya, adalah subjek yang memiliki latar belakang, nilai, dan tujuan.
Baca Juga: ESAI: Sastra Indonesia antara retrospeksi dan resolusi di era literasi digital
Mengakui subjektivitas ini adalah langkah awal menuju penulisan sejarah yang lebih jujur.
Kritik Sumber yang Berlapis: Literasi ilmu budaya mendorong sejarawan untuk melakukan kritik sumber yang lebih berlapis.
Tidak hanya kritik eksternal (keaslian dokumen) dan internal (kredibilitas isi), tetapi juga kritik terhadap bias budaya dan ideologis yang mungkin melekat pada sumber (terutama sumber kolonial).
Misalnya, 'laporan' seorang residen Belanda tentang 'kebiasaan aneh' pribumi harus dibaca dengan kesadaran akan pandangan etnografis kolonial yang seringkali bias.
Peran literasi ilmu budaya:
Literasi ilmu budaya sangat penting untuk menavigasi pusaran dialektika ini:
Baca Juga: Tanamkan karakter lewat qurban, Assyifa Boarding School bentuk generasi beradab dan tangguh