Ketika negara belajar menyambut
Ada banyak cara membangun sebuah negeri. Sebagian memilih jalan industri. Sebagian lagi mengandalkan tambang, atau megaproyek infrastruktur.
Tapi ada satu jalan yang kerap dilupakan—jalan yang tak selalu diukur dengan angka ekspor atau volume kontainer, tapi dengan sapaan ramah, cerita warga, dan jejak kaki orang asing yang pulang dengan hati penuh kenangan. Itu adalah jalan pariwisata.
Indonesia, dengan ribuan pulaunya, bukan hanya diberkahi alam yang memesona, tapi juga masyarakat yang secara alamiah tahu cara menyambut tamu.
Namun dalam sistem yang terburu-buru dan birokrasi yang kadang kaku, nilai-nilai itu kadang terkikis.
Baca Juga: Shell resmi jual seluruh SPBU di Indonesia, operasional tetap jalan hingga 2026
Di sinilah peran seorang seperti Hariyanto, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur di Kementerian Pariwisata, menjadi penting.
Saya menemuinya dalam suasana yang jauh dari formal. Tak ada tumpukan dokumen. Tak ada seliweran pejabat bersetelan lengkap.
Hanya ruang terang, pemandangan taman, dan secangkir kopi hitam dari desa wisata yang ia kunjungi minggu sebelumnya.
Yang terjadi selanjutnya bukan sekadar wawancara. Tapi percakapan tentang arah, tentang nilai, dan tentang wajah Indonesia yang ingin ditampilkan ke dunia. Bukan wajah metropolitan yang seragam.
Baca Juga: Simon Tahamata resmi jadi Kepala Pemandu Bakat PSSI, bidik talenta diaspora untuk Piala Dunia 2026
Tapi wajah desa, wajah pelabuhan kecil, wajah penjaja rujak di pinggir pantai, dan wajah ibu-ibu yang menyambut tamu dengan tangan hangat dan hati terbuka.
Melalui enam bagian berikut, esai ini mencoba menangkap bukan hanya isi kepala Hariyanto, tetapi juga denyut idealisme dan kesabaran seorang pejabat yang percaya bahwa pembangunan sejati dimulai dari senyum—bukan semen.
Bahwa teknologi boleh memandu arah, tetapi manusia yang menentukan makna. Dan bahwa pariwisata, jika dibangun dengan hati, bisa menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan, antara desa dan dunia, antara bangsa dan dirinya sendiri.