ESAI: Sertifikasi bagi tenaga kependidikan dan guru Al-Qur’an

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:18 WIB
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan

Baca Juga: Detik-detik banjir bandang terjang 5 desa di Gorontalo, ratusan rumah hingga kios warga rusak berat

Lebih dari itu, mereka berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai moral, akhlak, dan karakter Islami kepada peserta didik.

Di era yang diwarnai berbagai tantangan moral dan sosial, keberadaan guru Al-Qur’an justru semakin penting.

Ironisnya, dedikasi yang besar tersebut sering kali tidak sejalan dengan tingkat kesejahteraan yang diterima.

Banyak guru Al-Qur’an yang mengabdi selama bertahun-tahun dengan penghasilan yang jauh di bawah standar kelayakan.

Baca Juga: WALHI hingga akademisi soroti pencemaran Teluk Buli, pemerintah diminta audit aktivitas tambang

Padahal, masyarakat dan orang tua berharap sekolah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

Di sisi lain, tenaga kependidikan juga menghadapi situasi yang serupa.

Operator Dapodik, bendahara BOS, tenaga administrasi, pustakawan, laboran, dan berbagai profesi pendukung lainnya memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.

Operator Dapodik, misalnya, menjadi ujung tombak pengelolaan data pendidikan yang menjadi dasar berbagai kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Mobil sport kesayangannya terhantam Taksi Green SM, pemilik justru kecam perusahaan yang malah tuntut sopir ganti rugi

Kesalahan dalam pengelolaan data dapat berdampak pada penyaluran bantuan, tunjangan, hingga berbagai program pendidikan lainnya.

Begitu pula bendahara BOS yang mengelola dana operasional sekolah dengan prinsip akuntabilitas dan transparansi.

Tuntutan administrasi yang semakin kompleks membuat pekerjaan mereka membutuhkan kompetensi khusus dan tingkat ketelitian yang tinggi.

Namun, kontribusi besar tersebut belum diimbangi dengan penghargaan dan kesejahteraan yang memadai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X