WALHI hingga akademisi soroti pencemaran Teluk Buli, pemerintah diminta audit aktivitas tambang

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:38 WIB
Kondisi perairan Kali Kukuba yang keruh dan dipenuhi sedimentasi diduga akibat aktivitas tambang, memicu kekhawatiran pencemaran hingga Teluk Buli (Dok. Istimewa)
Kondisi perairan Kali Kukuba yang keruh dan dipenuhi sedimentasi diduga akibat aktivitas tambang, memicu kekhawatiran pencemaran hingga Teluk Buli (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Dugaan pencemaran lingkungan di kawasan Kali Kukuba dan Teluk Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara terus menjadi sorotan berbagai pihak.

Mulai dari organisasi lingkungan, akademisi, hingga masyarakat sipil mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

Sorotan ini menguat setelah beredarnya laporan serta dokumentasi kondisi perairan Teluk Buli yang tampak keruh dan diduga terdampak sedimentasi dari aktivitas industri tambang.

Baca Juga: Mobil sport kesayangannya terhantam Taksi Green SM, pemilik justru kecam perusahaan yang malah tuntut sopir ganti rugi

WALHI desak audit lingkungan menyeluruh

Direktur Eksekutif WALHI Maluku Utara, Astuti N. Kilwouw, menilai dugaan pencemaran tersebut harus diusut secara serius karena berpotensi merusak ekosistem pesisir dan mengganggu kehidupan masyarakat setempat.

Menurutnya, indikasi pencemaran yang bermula dari aliran Kali Kukuba hingga pesisir Teluk Buli bukan kali pertama terjadi.

Ia pun meminta pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah konkret.

“Pasti itu dapat menghancurkan tata sistem ekologi, terutama ekosistem di Teluk Buli,” ujar Astuti, dikutip dari Konteks.co.id, Sabtu, 30 Mei 2026.

Baca Juga: Razia narkoba di Riau bikin geger warga medsos, polisi ringkus anak kepala daerah hingga selebgram

WALHI juga mendorong pemerintah untuk memeriksa dokumen perizinan serta tingkat kepatuhan lingkungan perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Bahkan, audit lingkungan independen dinilai perlu dilakukan sebagai dasar evaluasi aktivitas tambang.

Akademisi: Risiko lingkungan harus diantisipasi sejak awal

Pandangan serupa disampaikan akademisi dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa. Ia menilai perubahan warna air tidak bisa langsung dianggap sebagai faktor alam semata.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X