Baca Juga: Razia narkoba di Riau bikin geger warga medsos, polisi ringkus anak kepala daerah hingga selebgram
Ketimpangan ini pada akhirnya memunculkan kesenjangan kesejahteraan di lingkungan sekolah.
Dalam satu institusi pendidikan, terdapat kelompok yang memperoleh tunjangan profesi dalam jumlah besar, sementara kelompok lain yang juga bekerja keras harus menerima penghasilan yang jauh berbeda.
Situasi ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan dikhawatirkan berpengaruh terhadap kinerja lembaga.
Padahal, pendidikan yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila seluruh komponen sekolah bekerja secara sinergis.
Baca Juga: DPRD Sulsel panggil Kesbangpol usai viral dugaan diskriminasi seleksi Paskibraka
Tidak ada satu profesi pun yang dapat mengklaim keberhasilan pendidikan sebagai hasil kerjanya sendiri.
Guru membutuhkan dukungan administrasi yang baik, tenaga kependidikan membutuhkan data yang akurat, dan seluruh proses tersebut membutuhkan pembinaan karakter yang kuat melalui pendidikan keagamaan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan perluasan program sertifikasi agar mencakup seluruh guru mata pelajaran tanpa terkecuali, termasuk guru Al-Qur’an dan guru keagamaan lainnya.
Selain itu, sertifikasi juga perlu dibuka bagi tenaga kependidikan yang memiliki tugas dan tanggung jawab strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
Baca Juga: Perkuat solidaritas, DPRD Subang salurkan hewan kurban untuk warga sekitar
Tentu saja, perluasan sertifikasi harus dibarengi dengan standar kompetensi yang jelas, mekanisme penilaian yang objektif, serta program pengembangan profesional berkelanjutan.
Sertifikasi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pemberian tunjangan, namun juga sebagai instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan.
Apabila kebijakan ini dapat diwujudkan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu penerima sertifikasi, tetapi juga oleh lembaga pendidikan secara keseluruhan.
Kesejahteraan yang lebih merata akan meningkatkan motivasi kerja, memperkuat kolaborasi antarprofesi, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis.
Artikel Terkait
ESAI : Peran guru, sudahkah menjadi guru yang dirindukan?
ESAI : Kado istimewa di Hari Guru, refleksi mengenai peran guru sebagai kunci pembentukan karakter siswa dengan pengelolaan sosial emosional
Siswi SMKN 2 Garut diduga jadi korban razia rambut paksa oleh guru BK, 8 orang minta pendampingan hukum
Viral guru pengganti di Jakarta gadaikan laptop siswa, modus pinjam untuk tugas sekolah
Atap kelas MTs Muhammadiyah di Sragen ambruk saat KBM, 7 siswa dan 1 guru jadi korban
Viral detik-detik siswa nyaris terseret arus sungai di Aceh Tengah, jembatan apung mulai rusak hingga harus dibantu guru menyeberang
Beda sikap MPR dan serikat guru soal permintaan maaf juri LCC usai kontroversi nilai minus 5