ESAI : Kado istimewa di Hari Guru, refleksi mengenai peran guru sebagai kunci pembentukan karakter siswa dengan pengelolaan sosial emosional

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 28 November 2024 | 21:01 WIB
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para guru yang telah berkontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam momen ini, semua diingatkan akan peran guru yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini, dimana pada saat ini guru tidak lagi pada transfer ilmu, namun bahkan guru menjadi aktor utama dalam upaya membentuk karakter, mendidik moral, dan inspirator masa depan.

Guru adalah sosok yang pembimbing siswa melalui proses pembelajaran yang terstruktur.

Baca Juga: Pernah ditawari ikut WWE, mega bintang sepak bola Cristiano Ronaldo kini diajak ribut mantan petarung UFC di atas ring oktagon

Guru harus mampu mengemas pembelajaran dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, mengelola kelas dengan melihat karakteristik siswa yang berbeda, menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa, serta mendorong mereka untuk berpikir kritis dan kreatif.

Meskipun memiliki peran yang sangat penting ini, guru juga menghadapi berbagai tantangan, baik dari perubahan kurikulum, keterbatasan fasilitas, hingga dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks.

Sehingga di momen Hari Guru Nasional ini guru harus pula menyadari bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi tentang peran apakah sudah betul-betul menjadi teladan, pembentuk karakter, menginspirasi, bahkan dirindukan oleh siswanya?

Refleksi diri ini harus senantiasa terbentuk dalam diri seorang guru, meski dengan berbagai tantangan tersebut.

Baca Juga: Vicky Prasetyo gagal jadi Bupati Pemalang? begini hasil minor versi quick count yang bikin sang artis merana di medsos

Pada tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), guru tentunya memiliki tantangan tersendiri.

Di usia ini, mereka tidak hanya belajar keterampilan akademik dan non akademik, tetapi juga menghadapi tantangan emosional dan psikologis dalam dirinya yang lebih kompleks terkait hubungan sosial, tekanan teman sebaya, dan perubahan emosional.

Oleh karena itu penerapan pembelajaran yang menekankan aspek sosial emosional menjadi semakin penting.

Masa SMP adalah fase ambivalen, di mana siswa mulai mengenal identitas diri mereka. Pada masa ini, siswa sering kali mengalami kebingungan emosional, mencari jati diri, dan mencoba memahami dunia di sekitar mereka.

Baca Juga: Pramono-Doel menang satu putaran? ini 4 alasan pesaing RK-Suswono berani selebrasi kemenangan di Pilgub DKI Jakarta 2024

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X