Isu kemanusiaan universal dan egaliter tanpa diskriminasi telah berhasil menggerakkan nilai nilai kemanusiaan yang universal dan egaliter dari negara-negara di dunia dengan krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina.
Baca Juga: Teror bom di 3 sekolah internasional Tangsel–Jakut, polisi telusuri jejak digital nomor asal Nigeria
Wacana atau diskursus krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina tidak lagi dipandang sebagai konflik agama tertentu atau etnik sosial, tetapi telah menjadi krisis kemanusiaan yang benar-benar mengkhawatirkan sbagai sebuah upaya terstruktur pembersihan (cleansing) atau tepatnya genosida di zaman modern.
Isu Palestina kini menjadi sebuah metafor akan kondisi krisis kemanusiaan yang harus segera dihentikan dengan aksi nyata negara-negara anggota PBB yang bertujuan untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia (peace and security).
Isu perdamaian dan keamanan yang terjadi di Palestina khususnya semakin menjadi perhatian dunia dan telah merambah ke seluruh relung hati kemanusiaan universal dari berbagai kalangan baik politisi, akademiki, musisi, aktifis kemanusiaan, budayawan, agamawan serta latar belakang sosial lainnya.
Baca Juga: Fokus ke daerah 3T, pemerintah ungkap alasan Sekolah Garuda prioritaskan wilayah luar Jawa
Isu Palestina juga menjadi pertaruhan PBB sebagai organisasi terbesar di dunia yang didalamnyalah isu-isu dan Keputusan mengikat semua negara anggota yang menentukan nasib perdamaian dan keamanan seluruh manusia yang ada di muka bumi.
Kekerasan akan menghasilkan sebuah kekerasan, demikian salah satu pernyataan Presiden Prabowo pada pidato sidang umum tahunan PBB lalu. Kekerasan atau perang hanya akan dibalas dengan kekerasan atau perang berikutnya.
Maka tidak ada solusi lain yang lebih efektif selain dengan cara mengedepankan dialog, diplomasi dan negosiasi yang dilakukan atau diinisiasi serta dimediasi oleh negara tertentu dengan dilandasi prinsip atau nilai kemanusiaan.
Untuk mencapai kesepakatan bersama maka tidak ada motif lain yang dapat mempersatukan visi kemanusiaan bersama selain motif kemanusiaan yang universal.
Baca Juga: Skenario Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026: Antara jalan terjal dan asa yang tak pernah padam
Dialog harus dilakukan dengan menanggalkan seluruh politik identitas serta harus benar-benar dilandasi dengan kemanusiaan semata.
Persepsi bahwa semua manusia adalah sama dengan kodratnya, tidak ada alasan apapun serta hukum apapun yang membolehkan terjadinya penindasan terhadap penindasan lainnya karena hak asasi manusia semuanya adalah sama.
Apabila kesepakatan diskursus kemanusiaan itu tercapai, maka perdamaian dan keamanan dunia akan dapat terwujud, khususnya dengan isu krisis kemanusiaan yang saat ini terjadi di Palestina yang saat ini menjadi sentral dari praktik krisis kemanusiaan dan genosida yang masih terjadi.
Kita berharap semoga pidato Presiden Prabowo merupakan sebuah gerakan afirmasi kepada PBB dan negara-negara anggotanya untuk semakin tersadarkan dengan isu kemanusiaan bersama yang wajib menjadi panggilan kemanusian (call of humanity) dengan apa yang terjadi di Palestina.
Artikel Terkait
Empat negara barat akui Palestina, Netanyahu murka: Tak akan ada negara Palestina di barat Yordan
Pengakuan Palestina oleh Inggris dan sekutunya picu ancaman aneksasi Israel, jadi harapan baru perdamaian
Drama mikrofon mati di sidang PBB: Dari Erdogan, Prabowo, hingga Carney, pesan pro Palestina tetap bergema
Pidato Prabowo di PBB: Dari luka penjajahan, Palestina merdeka, hingga janji swasembada pangan
ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme
Indonesia di PBB: Komitmen finansial untuk Palestina dan UNRWA tak bisa ditawar
5 Poin kritis proposal perdamaian Gaza ala Trump-Netanyahu, dari pemerintahan transisi hingga masa depan Palestina