ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 24 September 2025 | 23:59 WIB
Rizky Ababil Sugiarto, Presiden Mahasiswa UNSUB
Rizky Ababil Sugiarto, Presiden Mahasiswa UNSUB

Sejak masa pergerakan nasional, sosialisme telah menjadi sumber inspirasi perjuangan bangsa Indonesia dalam menghantam kolonialisme dan kapitalisme asing.

Bung Karno menekankan bahwa sosialisme harus menyatu dengan nasionalisme dan demokrasi.

Dari situlah lahir Marhaenisme, sebuah sosialisme yang berpihak pada rakyat kecil, kaum marhaen yang menjadi tulang punggung bangsa.

Sosialisme Indonesia bukanlah tiruan dari model Eropa ataupun dogma Marxian yang kaku.

Baca Juga: Pidato Prabowo di PBB: Dari luka penjajahan, Palestina merdeka, hingga janji swasembada pangan

Ia adalah gagasan yang tumbuh dari bumi sendiri, berakar pada gotong royong, nilai-nilai lokal, dan cita-cita kemerdekaan nasional.

Konsep Trisakti Bung Karno, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, masih sangat relevan untuk menjadi pedoman Indonesia hari ini.

Kota Subang bukan hanya sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup yang kaya dengan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya.

Dari pegunungan di selatan, lahan pertanian dan perkebunan di tengah, hingga pesisir utara dengan potensi kelautan yang melimpah, Subang adalah potret kecil Indonesia.

Baca Juga: Kasus keracunan MBG jadi KLB: BGN konsisten salahkan SPPG, Waka baru bentuk Tim Investigasi Khusus

Di sini, realitas marhaen hadir begitu nyata. Petani kecil, nelayan, buruh, pedagang kecil, hingga kaum miskin kota, hidup dan berjuang mempertahankan kehidupan.

Mereka inilah wajah asli bangsa, penopang sejati republik. Karena itu, Subang layak dipandang sebagai laboratorium perjuangan Marhaenisme, ruang tempat teori Bung Karno diuji dalam praksis sehari-hari.

Laboratorium ini bukan bangunan fisik, melainkan medan sosial-politik yang hidup.

Di dalamnya rakyat kecil berjuang menegakkan keadilan sosial, melawan sisa-sisa feodalisme, menghadapi dominasi kapitalisme global, serta melawan imperialisme gaya baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X