Di sinilah peran jurnalis kembali diuji: menjadi jembatan antara hak publik dan kewajiban negara.
Seorang jurnalis sejati sadar bahwa tugasnya bukan untuk menyenangkan, tapi mencerahkan. Ia tahu bahwa kebenaran bisa menyakitkan, tetapi juga membebaskan.
Ia paham bahwa kadang harus bekerja dalam bayang-bayang, namun tetap menyalakan cahaya agar publik tidak tersesat.
Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh kepentingan, profesi jurnalis harus terus dirawat, dilindungi, dan dihormati.
Baca Juga: SIGMA: Komunitas Guru Penggerak Subang dorong literasi guru lewat menulis dan launching website
Bukan karena jurnalis selalu benar, tetapi karena tanpanya, suara-suara kecil akan lenyap dalam kebisingan kekuasaan.
Menjadi jurnalis hari ini, berarti menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk memastikan bahwa informasi bukan milik segelintir elite, tapi hak seluruh rakyat.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Artikel Terkait
Curigai meninggalnya jurnalis Juwita, PWI dan AJI desak kepolisian usut tuntas dan siapkan pengacara
Anggota DPRD Jabar Bayu Satya Prawira kutuk keras kekerasan terhadap jurnalis di Subang
Bupati Subang geram atas kekerasan terhadap jurnalis: Minta usut tuntas dan warga tak main hakim sendiri
Ketua DPRD Subang kecam kekerasan terhadap jurnalis: Usut tuntas, jangan main hakim sendiri
Polres Subang ungkap kasus pengeroyokan jurnalis, IWOI kutuk keras dan apresiasi tindakan cepat polisi
Aktivis Subang desak polisi usut aktor intelektual di balik pengeroyokan jurnalis
Kanwil Kemenkumham Jabar kawal kasus kekerasan terhadap jurnalis di Subang