ESAI: Menjadi jurnalis di zaman keterbukaan, antara panggilan nurani dan risiko nyata

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 14 April 2025 | 21:39 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Operasi Ketupat 2025 berjalan lancar, semangat kebersamaan Polres Subang diperkuat lewat halalbihalal

Di sinilah peran jurnalis kembali diuji: menjadi jembatan antara hak publik dan kewajiban negara.

Seorang jurnalis sejati sadar bahwa tugasnya bukan untuk menyenangkan, tapi mencerahkan. Ia tahu bahwa kebenaran bisa menyakitkan, tetapi juga membebaskan.

Ia paham bahwa kadang harus bekerja dalam bayang-bayang, namun tetap menyalakan cahaya agar publik tidak tersesat.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh kepentingan, profesi jurnalis harus terus dirawat, dilindungi, dan dihormati.

Baca Juga: SIGMA: Komunitas Guru Penggerak Subang dorong literasi guru lewat menulis dan launching website

Bukan karena jurnalis selalu benar, tetapi karena tanpanya, suara-suara kecil akan lenyap dalam kebisingan kekuasaan.

Menjadi jurnalis hari ini, berarti menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk memastikan bahwa informasi bukan milik segelintir elite, tapi hak seluruh rakyat.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X