ESAI: Menjadi jurnalis di zaman keterbukaan, antara panggilan nurani dan risiko nyata

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 14 April 2025 | 21:39 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

 

Dalam sebuah dunia yang terus bergerak cepat, jurnalis berdiri di antara kekuasaan dan publik, menjadi penghubung informasi yang adil, akurat, dan berimbang.

Profesi ini bukan sekadar pekerjaan teknis melaporkan fakta. Ia adalah panggilan nurani yang menyatu dengan idealisme, aktivisme, dan semangat keterbukaan informasi publik.

Sejak kemunculannya di abad ke-17, jurnalisme telah memainkan peran penting dalam membentuk masyarakat modern.

Di era kolonial, surat kabar menjadi alat perjuangan. Di masa kemerdekaan, jurnalis adalah penjaga nalar publik.

Baca Juga: ESAI: Lelaki Korea dalam bayang-bayang realitas sosial

Dan kini, di zaman digital, mereka berdiri sebagai penjaga pintu terhadap banjir informasi yang kerap diselimuti kabut hoaks.

Namun, menjadi jurnalis bukanlah jalan yang bebas risiko. Di balik setiap liputan ada tekanan, ancaman, bahkan kekerasan.

Dalam konteks Indonesia, kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis masih terjadi, baik dalam bentuk fisik, intimidasi digital, maupun kriminalisasi hukum.

Padahal, kebebasan pers dijamin dalam konstitusi dan menjadi salah satu pilar demokrasi.

Baca Juga: Kang Rey sebut petugas kebersihan sebagai pahlawan, janjikan kenaikan gaji hingga setara UMR

Meski begitu, semangat untuk terus menyuarakan kebenaran tak pernah padam. Aktivisme jurnalis tidak selalu berwujud turun ke jalan.

Ia hidup dalam setiap berita yang menggugat ketidakadilan, dalam setiap investigasi yang mengungkap kebobrokan, dan dalam setiap keberanian untuk bertanya di saat orang lain memilih diam.

Keterbukaan informasi publik adalah ruh dari demokrasi. Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjadi salah satu tonggak penting.

Namun, pelaksanaannya masih jauh dari ideal. Banyak lembaga publik menutup rapat akses informasi yang seharusnya menjadi hak warga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X