Dalam sebuah dunia yang terus bergerak cepat, jurnalis berdiri di antara kekuasaan dan publik, menjadi penghubung informasi yang adil, akurat, dan berimbang.
Profesi ini bukan sekadar pekerjaan teknis melaporkan fakta. Ia adalah panggilan nurani yang menyatu dengan idealisme, aktivisme, dan semangat keterbukaan informasi publik.
Sejak kemunculannya di abad ke-17, jurnalisme telah memainkan peran penting dalam membentuk masyarakat modern.
Di era kolonial, surat kabar menjadi alat perjuangan. Di masa kemerdekaan, jurnalis adalah penjaga nalar publik.
Baca Juga: ESAI: Lelaki Korea dalam bayang-bayang realitas sosial
Dan kini, di zaman digital, mereka berdiri sebagai penjaga pintu terhadap banjir informasi yang kerap diselimuti kabut hoaks.
Namun, menjadi jurnalis bukanlah jalan yang bebas risiko. Di balik setiap liputan ada tekanan, ancaman, bahkan kekerasan.
Dalam konteks Indonesia, kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis masih terjadi, baik dalam bentuk fisik, intimidasi digital, maupun kriminalisasi hukum.
Padahal, kebebasan pers dijamin dalam konstitusi dan menjadi salah satu pilar demokrasi.
Baca Juga: Kang Rey sebut petugas kebersihan sebagai pahlawan, janjikan kenaikan gaji hingga setara UMR
Meski begitu, semangat untuk terus menyuarakan kebenaran tak pernah padam. Aktivisme jurnalis tidak selalu berwujud turun ke jalan.
Ia hidup dalam setiap berita yang menggugat ketidakadilan, dalam setiap investigasi yang mengungkap kebobrokan, dan dalam setiap keberanian untuk bertanya di saat orang lain memilih diam.
Keterbukaan informasi publik adalah ruh dari demokrasi. Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjadi salah satu tonggak penting.
Namun, pelaksanaannya masih jauh dari ideal. Banyak lembaga publik menutup rapat akses informasi yang seharusnya menjadi hak warga.
Artikel Terkait
Curigai meninggalnya jurnalis Juwita, PWI dan AJI desak kepolisian usut tuntas dan siapkan pengacara
Anggota DPRD Jabar Bayu Satya Prawira kutuk keras kekerasan terhadap jurnalis di Subang
Bupati Subang geram atas kekerasan terhadap jurnalis: Minta usut tuntas dan warga tak main hakim sendiri
Ketua DPRD Subang kecam kekerasan terhadap jurnalis: Usut tuntas, jangan main hakim sendiri
Polres Subang ungkap kasus pengeroyokan jurnalis, IWOI kutuk keras dan apresiasi tindakan cepat polisi
Aktivis Subang desak polisi usut aktor intelektual di balik pengeroyokan jurnalis
Kanwil Kemenkumham Jabar kawal kasus kekerasan terhadap jurnalis di Subang