ESAI : Surat terbuka untuk pelatih baru kesebelasan Indonesia Patrick Kluivert

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 21 Januari 2025 | 05:31 WIB
Wina Armada Sukardi, Analis Sepak Bola
Wina Armada Sukardi, Analis Sepak Bola

Sebelumnya, fisik rata-rata pemain Indonesia hanya dapat tahan 45 menit babak pertama saja. Memasuki babak kedua, pemain Indonesia cepat kehabisan nafas dan oleh karenanya mudah kebobolan. Shin Tae-yong mengubah hal itu.

Hanya saja, menurut PSSI, Shin Tae-young memiliki kekurangan pada aspek komunikasi dan ada kompleksitas yang tidak dapat ditangani Shin Tae-yong dengan baik. Jadi, 'pemecatan' Shin Tae-yong sama sekali bukan urusan prestasi.

Baca Juga: Ratusan ASN geruduk kantor Kemdiktisaintek hingga sentil Menteri Satryo yang diduga suka main pecat!

Coach Patrick Kluivert yang terhormat

Oleh lantaran itu, kehadiran Anda menangani kesebelasan Indonesia, tiada lain dan tiada bukan, tidak boleh berada di bawah level prestasi kepelatihan Shin Tae-yong.

Apa pun alasannya, jika capaian Coach di bawah Shin Tae-yong, maka cap atau lebeling buat Anda dalam menangani kesebelasan Indonesia, satu kata saja: gagal. Maka, Coach, sebuah keharusan prestasi Anda berada di atas Shin Tae-yong.

Dalam praktek jangka pendek, sekaligus sebagai ujian penting, hal itu dapat diterjemahkan, kewajiban Coach Patrick Kluivert membawa lolos kesebelasan Indonesia masuk sebagai peserta kejuaraan dunia 2026.

Target itu tanpa konpromi. Jika Coach Patrick Kluivert tidak mampu menyandang beban dan tanggung jawab itu, mau tidak mau, suka tidak suka, Coach dimuarakan pada kesimpulan punya kemampuan atau kualitas di bawah Shin Tae-yong.

Baca Juga: BTN mulai akuisisi Bank Victoria Syariah

Dan pilihan terhadap Coach Patrick Kluivert dianggap publik sebagai sebuah blander.

Coach Patrick Kluivert yang terhormat

Dalam jangka pendek, ukuran sukses Anda sederhana saja: meraup point sebanyak-banyaknya dalam empat pertandingan kejuaraan dunia yang akan datang, masing-masing melawan Australia (tandang), Bahrain dan China (kandang) dan Jepang (tandang).

Jika tidak mendapat point yang memungkinkan Indonesia lolos ke Piala Dunia, tak usah sakit hati, Anda akan menerima hujatan bertubi-tubi dari warga sepak bola Indonesia.

Sebaliknya, jika berhasil meloloskan kesebelasan Indonesia ke kejuaraan dunia, tak usah diminta, bakal mengalir puja-puji selangit kepada Anda.

Baca Juga: Pengguna medsos di AS kini migrasi ke RedNote usai pemblokiran TikTok, begini beda cara posting warganet China vs Negeri Paman Sam

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X