ESAI : Surat terbuka untuk pelatih baru kesebelasan Indonesia Patrick Kluivert

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 21 Januari 2025 | 05:31 WIB
Wina Armada Sukardi, Analis Sepak Bola
Wina Armada Sukardi, Analis Sepak Bola

Dari junlah itu hanya dua orang yang mempunyai cara melatih lumayan siginifikan bagi Indonesia.

Nama pertama dan yang utama yang perlu dicatat adalah pelatih Wiel Coerver. Dia tahun 1976 hampir saja membawa Indonesia lolos ke Olimpiade.

Baca Juga: Resmi diblokir di AS, TikTok bakal kena denda Rp81,9 juta per orang jika masih ada warga Paman Sam yang main aplikasi asal China itu!

Waktu itu belum ada ketentuan sepak bola Olimpiade diperuntukan hanya bagi tim U-23 plus tiga senior.

Indonesia kala itu, dalam pertandingan penentuan terakhir, hanya kalah adu pinalti dari Korea Utara.

Tiga tahun kemudian Wiel Cover mempersembahkan mendali perak Sea Games. Dia memberikan kosntribusi lumayan bagi sepak bola Indonesia.

Hal itu tak mengherankan, karena Wiel Coerver pelatih dengan reputasi cemerlang. Dia pernah membawa Feyenoord juara Piala Europa 1975-1974 dan sempat menangani Roda JC, Sparta, hingga NEC Nijmegen.

Baca Juga: Aksi kriminal bobol rumah meresahkan di Jaksel, dari mencongkel gerbang di 20 lokasi hingga gasak barang mewah

Pelatih berikut Frans van Balkom. Dia menjadi arsitek Indonesia pada patahun 1978-1979. Van Balkon memperkenalkan sepak 'jemput bola.'

Dia mengajarkan dalam perebutan bola dan pasing, pemain jangan pasif menunggu bola, tetapi aktif 'menjemput bola.' Selain 'jemput bola' Van Blkom tak meninggalkan jejak berarti dalam sepak bola Indonesia.

Tiga pelatih berikutnya, masing-masing, Henk Wullems, (medali perak SEA Games 1997), Wim Rijsbergen dan Pieter Huistra tidak membawa hasil menonjol dan tidak meninggalkan legesi apapun.

Coach Patrick Kluivert yang terhormat

Kini Anda pelatih keenam yang dengan berdebar dinanti hasilnya, apakah akan sama saja dengan pelatih asal Belanda lainnya, ataukah Anda lebih istimewa. Dibanding dengan pelati-pelatih itu Anda punya keuntungan.

Baca Juga: Pemilik rumah di insiden kebakaran LA sebut Uya Kuya tak punya empati usai ketahuan bikin konten tanpa izin

Kiwari sebagian besar pemain 'naturalisasi' kesebelasan Indonesia berasal dari Belanda, dunia dan budaya serta pemain yang sangat Anda ketahui.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X