ESAI: Dua pusai, dua pengeyel 

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 16 Januari 2025 | 01:17 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Kehebatan para cendekiawan barat, dapat memetakan potensi kedalaman manusia (jiwa) dimulai dari logika, kemudian etika, barulah estetika, dan itu bisa disebut triumvirat potensi diri.

Keimanan atau keyakinan (spiritual), tidak dimasukkan ke dalam potensi itu, hingga abad modern pun intelligent quotion (IQ) masih menjadi pujaan manusia.

Disebut cerdas, karena ia memiliki IQ yang tinggi. Baru belakangan Barat menyadari kekeliruannya, bahwa ternyata SQ dan EQ, jauh lebih penting dari IQ.

Logika atau nalar adalah potensi untuk mampu menguji segala sesuatu dengan membedah (analisis), didukung oleh bukti dan kenyataan (data dan fakta).

Baca Juga: Bung Towel masih nyinyir ke STY soal AFF 2024, dari kendala bahasa hingga bocoran target PSSI yang sebenarnya ke eks juru taktik Garuda itu!

Di tataran pembedahan ini, tidak cukup sebuah argumentasi hanya diajukan dengan berupa penggalan-penggalan yang bersifat pernyataan pendek atau slogan (Slogan adalah kalimat pendek yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menyampaikan informasi, pesan, atau nilai tertentu).

Di ranah ini, sudah terjadi perbenturan antara pengakuan sebagai penemu hal baru, dengan yang membantah bahwa penemuannya itu bukan hal baru: Nothing new under The Sun (euweuh nu anyar di kolong langit mah).

Saya sebut, Denny JA (DJA) mengaku menemukan genre baru puisi Indonesia, yaitu puisi yang dikawinkan dengan esai, sehingga menjadi puisi esai (pusai).

Lalu muncul Sugiono Empe (SP), juga mengaku menemukan pola baru dalam sastra yang disebut puisi bonsai (pusai).

Baca Juga: Ketika seorang ayah tega tinggalkan anaknya di RS Grogol, ada pilu yang dirasakan pria di Bali ini soal kasus bayi yang ditelantarkan orang tua

Pada awal 2025, SP mengubah definisi dari puisi yang dibonsai, menjadi sesuatu yang bukan puisi dan disebut nonprosa, tapi bentuk dan pola ucapnya masih puisi pendek, sehingga mau tak mau, sekuat apapun SP menjelaskan, kesadaran pubik akan menyebut karya yang seperti itu adalah puisi.

Para penentang mengajukan bukti dan kenyataan (data dan fakta), bahwa yang disebut pusai oleh DJA maupun oleh SP, bukanlah hal baru, sudah ada sejak dulu.

Penyair yang disebut telah menggunakan catatan kaki antara lain Alexander Pope yang seringkali memberangkatkan penciptaan puisinya dari realitas, sama seperti DJA, memberangkatkan puisinya dari kenyataan yang demi memperkuat kenyataan itu, dibuatlah catatan kaki.

Tapi ingat, Den, Pope juga membuat catatan kaki kan? Sebagai tukang survey, DJA gagal mengapungkan klaimnya, ternyata ada yang kelewat dan tak tersurvey, termasuk puisi Toto ST Radik yang ditulis tahun 2003, juga sudah menggunakan catatan kaki, dan juga diberangkatkan dari kenyataan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X