Kehebatan para cendekiawan barat, dapat memetakan potensi kedalaman manusia (jiwa) dimulai dari logika, kemudian etika, barulah estetika, dan itu bisa disebut triumvirat potensi diri.
Keimanan atau keyakinan (spiritual), tidak dimasukkan ke dalam potensi itu, hingga abad modern pun intelligent quotion (IQ) masih menjadi pujaan manusia.
Disebut cerdas, karena ia memiliki IQ yang tinggi. Baru belakangan Barat menyadari kekeliruannya, bahwa ternyata SQ dan EQ, jauh lebih penting dari IQ.
Logika atau nalar adalah potensi untuk mampu menguji segala sesuatu dengan membedah (analisis), didukung oleh bukti dan kenyataan (data dan fakta).
Di tataran pembedahan ini, tidak cukup sebuah argumentasi hanya diajukan dengan berupa penggalan-penggalan yang bersifat pernyataan pendek atau slogan (Slogan adalah kalimat pendek yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menyampaikan informasi, pesan, atau nilai tertentu).
Di ranah ini, sudah terjadi perbenturan antara pengakuan sebagai penemu hal baru, dengan yang membantah bahwa penemuannya itu bukan hal baru: Nothing new under The Sun (euweuh nu anyar di kolong langit mah).
Saya sebut, Denny JA (DJA) mengaku menemukan genre baru puisi Indonesia, yaitu puisi yang dikawinkan dengan esai, sehingga menjadi puisi esai (pusai).
Lalu muncul Sugiono Empe (SP), juga mengaku menemukan pola baru dalam sastra yang disebut puisi bonsai (pusai).
Pada awal 2025, SP mengubah definisi dari puisi yang dibonsai, menjadi sesuatu yang bukan puisi dan disebut nonprosa, tapi bentuk dan pola ucapnya masih puisi pendek, sehingga mau tak mau, sekuat apapun SP menjelaskan, kesadaran pubik akan menyebut karya yang seperti itu adalah puisi.
Para penentang mengajukan bukti dan kenyataan (data dan fakta), bahwa yang disebut pusai oleh DJA maupun oleh SP, bukanlah hal baru, sudah ada sejak dulu.
Penyair yang disebut telah menggunakan catatan kaki antara lain Alexander Pope yang seringkali memberangkatkan penciptaan puisinya dari realitas, sama seperti DJA, memberangkatkan puisinya dari kenyataan yang demi memperkuat kenyataan itu, dibuatlah catatan kaki.
Tapi ingat, Den, Pope juga membuat catatan kaki kan? Sebagai tukang survey, DJA gagal mengapungkan klaimnya, ternyata ada yang kelewat dan tak tersurvey, termasuk puisi Toto ST Radik yang ditulis tahun 2003, juga sudah menggunakan catatan kaki, dan juga diberangkatkan dari kenyataan.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Kumpulan puisi pilihan dari buku karya Radhar Panca Dahana, berjudul Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik
7 Puisi karya penyair dan sastrawan Pulo Lasman Simanjutak
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
ESAI : Korupsi Rp300 triliun hanya dihukum 6,5 tahun. Setelah Kejagung mengajukan banding, akan seperti apa jadinya?