Penyair Widji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 27 Juli 2023 | 17:01 WIB
Aktivis Wiji Thukul
Aktivis Wiji Thukul

GENMILENIAL.ID - Di tengah gejolak politik dan sosial yang mewarnai sejarah Indonesia, muncul sosok penyair berdarah seni yang menggetarkan hati rakyat dengan lantunan puisinya yang penuh semangat perlawanan.

Nama Widji Thukul tak hanya diingat sebagai seorang penyair, tetapi juga sebagai seorang pejuang hak asasi manusia.

Lewat puisi-puisinya yang penuh makna, Widji Thukul mampu menyuarakan suara rakyat, menggugah kesadaran kolektif, dan memberikan semangat dalam pergerakan sosialnya.

Widji Thukul, lahir dengan nama Widji Widodo pada tanggal 27 Juni 1963 di Solo, Jawa Tengah. Pendidikan awalnya yang minim tidak menghalangi bakat sastrawinya yang khas.

Pada tahun 1987, ia mulai menekuni dunia puisi, menggubah karya-karya yang menceritakan realitas sosial dan politik yang dihadapi rakyat kecil.

Baca Juga: Ups! seperti ini dampak buruk tidak makan sebelum tidur bagi kesehatan

Puisi-puisi Widji Thukul kerap kali berbicara tentang ketidakadilan, korupsi, ketimpangan sosial, serta ketegangan politik yang membelenggu masyarakat.

Dalam lirik puisinya, Widji Thukul mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap nasib kaum buruh, petani, dan masyarakat marginal lainnya yang seringkali dilupakan oleh elit politik.

Widji Thukul dikenal sebagai penyair perlawanan karena puisi-puisinya yang begitu kuat dan tajam dalam menyindir rezim otoriter.

Kritik sosialnya melalui bait-bait puisi tak jarang menyinggung elit politik yang korup dan mengeksploitasi rakyat.

Puisi-puisinya menjadi perwakilan bagi suara-suara terpinggirkan yang membutuhkan keadilan dan persamaan hak.

Baca Juga: Kaya serat, jenis makanan ini dipercaya ampuh cegah sembelit

Salah satu puisi ikonik Widji Thukul adalah 'Aku Ingin'. Dalam puisi tersebut, Widji Thukul mengekspresikan keinginannya untuk hidup bebas tanpa intimidasi dan tekanan dari kekuasaan yang sewenang-wenang.

Bait-bait puisi itu menjadi teriakan nyata dari hati nurani yang merindukan keadilan dan kebebasan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X