ESAI: Dua pusai, dua pengeyel 

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 16 Januari 2025 | 01:17 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Lionel Messi bisa disebut adalah seniman bola. Ia bisa memadukan etika teknikal, etika normatif, logis, dalam satu gerak dan hentakan nafas. Teknik-teknik main bola Messi sudah dikaji dan dirasionalisasi, dan memang mengagumkan.

Baca Juga: Mobil milik Aurelie-Tyler ringsek akibat kecelakaan di AS, menyisakan cedera serius bagi pasangan artis dan dokter Itu dari kepala hingga kaki

Lalu, cara bermain yang fair play, empatik, itu menggenapkan keetikaan sorang Messi dalam bermain bola yang memehuni kriteria etika normatif. Hasilnya di lapangan, memukau seluruh umat manusia pecinta bola.

Ada bukti dan kenyataan untuk memperkuat argumentasi bahwa Messi adalah pemain terbaik di dunia, adalah si GOAT tea, sejenis embe yang bunyinya embeeeee....., Ke-GOAT-nnya itu, bisa dilihat dengan mata dan diukur dengan berbagai capaian rekor.

Ia memboyong semua pila bergengsi dalam bidang sepakbola, malah satu-satunya tim yang berhasil mencapai sextrebel (6 piala dalam satu musim), adalah Barcelona di mana Messi merupakan mesin gol tak terbantahkan. Iya kan?

Lalu bagaimana dengan argumentasi pusai DJA maupun pusai SP sebagai temuan baru? Ini terbantahkan dengan bukti dan kenyataan.

Baca Juga: Habis kebakaran terbit penjarahan, sisi lain peristiwa kebakaran di LA yang bikin 2.500 pasukan militer turun ke TKP!

Namun, keduanya ngeyel dengan menyodorkan pernyataan sloganistik, pamfletis, spandukisasi, dengan didukung oleh hayalan (ilusi) dan halusinasi (sawan) bahwa karyanya berhak meraih hadiah Nobel. Beu!

Tentang bentuk pusai 

Bentuk pusai DJA itu mengalami obscuritas (kacau) dalam pemetaan, disebabkan yang pokok dalam pusainya itu adalah catatan kaki. Jadi, sebenarnya inilah karya catatan kakisme dalam bentu puisi.

Katanya, bentuk barunya itu, adalah guna memasyarakatkan puisi, yang selama ini puisi itu dijauhi masyarakat. Nah, pernyataannya ini dibantah oleh kenyataan lain, bahwa masyarakat di seluruh dunia, kini makin banyak yang gemar berpuisi, termasuk di Indonesia.

Namun yang berhasil memasyarakatkan puisi dan mempuisikan masyarakat itu adalah Mark Zuckerberg yang menemukan Pésbuk.

Baca Juga: Imbas koin jagat merusak banyak fasilitas umum, pemain bisa terancam dipidana karena hal ini

Pusai DJA justru bisa menjauhkan masyarakat dari puisi, karena karyanya tidak mengagumkan, mentah, biasa-biasa saja, tiada sublim-sublimnya, bahkan tema yang pro LGBT, seperti kisah curhatan homo dalam buku Atas Nama Cinta, bisa membuat orang mengeryitkan dahi. Ih, geuleuh.

Sedangkan Pusainya SP, adalah puisi alit, atau puisi pendek, namun ia tak menyebutnya sebagai puisi, demi memenuhi ambisinya untuk disebut penemu karya sastra nonprosa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X