Lionel Messi bisa disebut adalah seniman bola. Ia bisa memadukan etika teknikal, etika normatif, logis, dalam satu gerak dan hentakan nafas. Teknik-teknik main bola Messi sudah dikaji dan dirasionalisasi, dan memang mengagumkan.
Lalu, cara bermain yang fair play, empatik, itu menggenapkan keetikaan sorang Messi dalam bermain bola yang memehuni kriteria etika normatif. Hasilnya di lapangan, memukau seluruh umat manusia pecinta bola.
Ada bukti dan kenyataan untuk memperkuat argumentasi bahwa Messi adalah pemain terbaik di dunia, adalah si GOAT tea, sejenis embe yang bunyinya embeeeee....., Ke-GOAT-nnya itu, bisa dilihat dengan mata dan diukur dengan berbagai capaian rekor.
Ia memboyong semua pila bergengsi dalam bidang sepakbola, malah satu-satunya tim yang berhasil mencapai sextrebel (6 piala dalam satu musim), adalah Barcelona di mana Messi merupakan mesin gol tak terbantahkan. Iya kan?
Lalu bagaimana dengan argumentasi pusai DJA maupun pusai SP sebagai temuan baru? Ini terbantahkan dengan bukti dan kenyataan.
Namun, keduanya ngeyel dengan menyodorkan pernyataan sloganistik, pamfletis, spandukisasi, dengan didukung oleh hayalan (ilusi) dan halusinasi (sawan) bahwa karyanya berhak meraih hadiah Nobel. Beu!
Tentang bentuk pusai
Bentuk pusai DJA itu mengalami obscuritas (kacau) dalam pemetaan, disebabkan yang pokok dalam pusainya itu adalah catatan kaki. Jadi, sebenarnya inilah karya catatan kakisme dalam bentu puisi.
Katanya, bentuk barunya itu, adalah guna memasyarakatkan puisi, yang selama ini puisi itu dijauhi masyarakat. Nah, pernyataannya ini dibantah oleh kenyataan lain, bahwa masyarakat di seluruh dunia, kini makin banyak yang gemar berpuisi, termasuk di Indonesia.
Namun yang berhasil memasyarakatkan puisi dan mempuisikan masyarakat itu adalah Mark Zuckerberg yang menemukan Pésbuk.
Baca Juga: Imbas koin jagat merusak banyak fasilitas umum, pemain bisa terancam dipidana karena hal ini
Pusai DJA justru bisa menjauhkan masyarakat dari puisi, karena karyanya tidak mengagumkan, mentah, biasa-biasa saja, tiada sublim-sublimnya, bahkan tema yang pro LGBT, seperti kisah curhatan homo dalam buku Atas Nama Cinta, bisa membuat orang mengeryitkan dahi. Ih, geuleuh.
Sedangkan Pusainya SP, adalah puisi alit, atau puisi pendek, namun ia tak menyebutnya sebagai puisi, demi memenuhi ambisinya untuk disebut penemu karya sastra nonprosa.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Kumpulan puisi pilihan dari buku karya Radhar Panca Dahana, berjudul Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik
7 Puisi karya penyair dan sastrawan Pulo Lasman Simanjutak
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
ESAI : Korupsi Rp300 triliun hanya dihukum 6,5 tahun. Setelah Kejagung mengajukan banding, akan seperti apa jadinya?