10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 21 Maret 2023 | 14:04 WIB
Penyair dan Guru Besar Sastra UI Sapardi Djoko Damono
Penyair dan Guru Besar Sastra UI Sapardi Djoko Damono

GENMILENIAL.ID - Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 – 19 Juli 2020) adalah seorang penyair dan pujangga Indonesia.

Selain terkenal dengan karya puisinya, penyair yang biasa dipanggil SDD ini adalah Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya.

Sapardi memiliki banyak karya, berikut ini adalah 10 puisi indah karyanya :

1. Akulah si telaga (1982) 

Akulah si telaga
Berlayarlah di atasnya
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil 
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya
Yang menggerakkan bunga-bunga padma
Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja perahumu 
Biar aku yang menjaganya. 

Baca Juga: 7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45

2. Hujan bulan juni 

Tak ada yang lebih tabah,
dari hujan bulan Juni 
Dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu 
Tak ada yang lebih bijak, 
dari hujan bulan Juni 
Dihapusnya jejak-jejak kakinya 
yang ragu-ragu di jalan itu 
Tak ada yang lebih arif,
dari hujan bulan Juni 
Dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu 

3. Sementara kita saling berbisik (1966) 

Sementara kita saling berbisik 
Untuk tinggal lebih lama lagi 
Pada debu, cinta yang tinggal berupa 
Bunga kertas dan lintasan angka-angka
Ketika kita saling berbisik 
Di luar semakin sengit malam hari 
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, 
Menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar 
Ada yang masih bersikeras abadi 

4. Yang fana adalah waktu (1989) 

Yang fana adalah waktu
Kita abadi memungut detik demi detik 
Merangkainya seperti bunga 
Sampai pada suatu hari 
Kita lupa untuk apa 
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. 
Kita abadi. 

5. Aku ingin (1989) 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Dengan kata yang tak sempat diucapkan 
Kayu kepada api yang menjadikannya abu 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X