Baca Juga: Diincar para mahasiswa, simak keuntungan daftar beasiswa LPDP yang mulai dibuka pada 17 Januari 2025
Tapi apa lacur, layar sudah dikembangkan, sauh sudah ditarik, pantang mundur, maka tak ada pilihan selain ngeyel.
Logika yang kokoh, kukuh, kuat, akan melahirkan etika. Etika adalah aturan. Semua aturan adalah etika. Di sinilah etika perlu dipahami jelujurnya, kemudian dikelompokkan, dikategorisasi dan dinamai.
Aturan yang berangkat dari norma, baik norma agama, adat-istiadat atau konvensi itu saya sebut dengan istilah etika normatif.
Lalu ada aturan yang berangkat dari hukum positif (konstitusi) itu disebut etika postif. Misalnya pencawapresan Gibran terkendala oleh aturan bahwa cawapres minimal berusia 40 tahun.
Bila ini dilanggar, maka tidak etis. Supaya jadi etis, maka aturannya diubah dulu. Mengubah aturan dulu demi tercapainya tujuan, ini bisa dipandang tidak etis secara norma, karena tampak akal-akalan.
Apakah kalian tidak berfikir (berkali-kali Kitab Quran, Inzil, Veda, membahas tentang alam pikir ini).
Dan, ada aturan yang berangkat dari ukuran kepastian, disebut etika teknikal atau etika matematis. Misalnya, cara membuat kursi yang benar dan nyaman, kakinya harus sama tinggi, sama besar, bila salah satu kependekan, maka kursi akan gigleg, dan itu tidak etis serta bisa mencelakakan.
Etika teknikal dan matematis ini, berlaku juga dalam dunia sepakbola. Cara menendang bola yang tepat dan akurat itu mesti begini atau begitu, dan di situ ada etika teknikal yang bisa dipelajari.
Nah, bila logika sudah dikuasai, etika diterapkan, maka karya seseorang akan memukau. Memukau inilah yang disebut dengan estetik.
Baca Juga: Razman Arif akan urus proses adopsi anak Nikita Mirzani, ungkap niat menyelamatkan kehidupan Lolly
Istilah estetika berangkat dari sesuatu yang memukau itu, saya dapatkan dari Theodoor Willem Geldorp alis Dick Hartoko dalam bukunya Manusia dan Seni.
Jangan kita lupakan, bahwa puisi adalah karya sastra, dan bahwa karya adalah kesenian, dan kesenian adalah anak dari estetika. Maka, bila sebuah karya tidak kuat secara logika, tidak etis dalam pengedepanannya, ia tidak akan memukau, tidak estetika.
Jangan lupa pula, bahwa ternyata seluruh aspek aktivitas manusia, mengandung sisi estetikanya, sisi seninya, sehingga lahir frase-frase seperti seni sepakbola, seni berpidato, seni berpuisi, dan lain-lain.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Kumpulan puisi pilihan dari buku karya Radhar Panca Dahana, berjudul Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik
7 Puisi karya penyair dan sastrawan Pulo Lasman Simanjutak
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
ESAI : Korupsi Rp300 triliun hanya dihukum 6,5 tahun. Setelah Kejagung mengajukan banding, akan seperti apa jadinya?