ESAI: Dua pusai, dua pengeyel 

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 16 Januari 2025 | 01:17 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Baca Juga: Diincar para mahasiswa, simak keuntungan daftar beasiswa LPDP yang mulai dibuka pada 17 Januari 2025

Tapi apa lacur, layar sudah dikembangkan, sauh sudah ditarik, pantang mundur, maka tak ada pilihan selain ngeyel.

Logika yang kokoh, kukuh, kuat, akan melahirkan etika. Etika adalah aturan. Semua aturan adalah etika. Di sinilah etika perlu dipahami jelujurnya, kemudian dikelompokkan, dikategorisasi dan dinamai.

Aturan yang berangkat dari norma, baik norma agama, adat-istiadat atau konvensi itu saya sebut dengan istilah etika normatif.

Lalu ada aturan yang berangkat dari hukum positif (konstitusi) itu disebut etika postif. Misalnya pencawapresan Gibran terkendala oleh aturan bahwa cawapres minimal berusia 40 tahun.

Bila ini dilanggar, maka tidak etis. Supaya jadi etis, maka aturannya diubah dulu. Mengubah aturan dulu demi tercapainya tujuan, ini bisa dipandang tidak etis secara norma, karena tampak akal-akalan.

Baca Juga: Tanggapan PBNU hingga Baznas tentang penggunaan zakat untuk danai Makan Bergizi Gratis yang jadi pro-kontra

Apakah kalian tidak berfikir (berkali-kali Kitab Quran, Inzil, Veda, membahas tentang alam pikir ini).

Dan, ada aturan yang berangkat dari ukuran kepastian, disebut etika teknikal atau etika matematis. Misalnya, cara membuat kursi yang benar dan nyaman, kakinya harus sama tinggi, sama besar, bila salah satu kependekan, maka kursi akan gigleg, dan itu tidak etis serta bisa mencelakakan.

Etika teknikal dan matematis ini, berlaku juga dalam dunia sepakbola. Cara menendang bola yang tepat dan akurat itu mesti begini atau begitu, dan di situ ada etika teknikal yang bisa dipelajari.

Nah, bila logika sudah dikuasai, etika diterapkan, maka karya seseorang akan memukau. Memukau inilah yang disebut dengan estetik.

Baca Juga: Razman Arif akan urus proses adopsi anak Nikita Mirzani, ungkap niat menyelamatkan kehidupan Lolly

Istilah estetika berangkat dari sesuatu yang memukau itu, saya dapatkan dari Theodoor Willem Geldorp alis Dick Hartoko dalam bukunya Manusia dan Seni.

Jangan kita lupakan, bahwa puisi adalah karya sastra, dan bahwa karya adalah kesenian, dan kesenian adalah anak dari estetika. Maka, bila sebuah karya tidak kuat secara logika, tidak etis dalam pengedepanannya, ia tidak akan memukau, tidak estetika.

Jangan lupa pula, bahwa ternyata seluruh aspek aktivitas manusia, mengandung sisi estetikanya, sisi seninya, sehingga lahir frase-frase seperti seni sepakbola, seni berpidato, seni berpuisi, dan lain-lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X