ESAI : Kaum muda itu perintis bukan pewaris, ambil peran dengan sehormat-hormatnya

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 17 Mei 2024 | 11:10 WIB
Yaya Suryana - Pemred GenMilenial.id
Yaya Suryana - Pemred GenMilenial.id

Baca Juga: Maraknya peredaran narkoba, dalam sepekan polisi tangkap 2 tersangka di Kecamatan Subang

Hari kelahiran Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, hal tersebut berdasarkan Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Kelahiran Budi Utomo merupakan cikal bakal dari lahirnya berbagai organisasi perjuangan lainya seperti Sarekat Islam dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Peran besar dari pergerakan Budi Utomo yaitu memberikan kesadaran kolektif saat itu dalam memperjuangkan hak-hak rakyat sebagai landasan penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah Budi Utomo, kita mengenal Sumpah Pemuda, kelahiran gerakan anak-anak muda ini tak lepas juga dipelopori oleh para pemuda terpelajar.

Baca Juga: ESAI : Bukan sekolah di negeri dongeng

Sumpah Pemuda lahir dari rapat para pemuda pada Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 28 Oktober 1928, kala itu para pemuda menyelenggarakan rapat atau kongres yang diusulkan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yakni organisasi pemuda yang beranggotakan para pelajar dari seluruh Indonesia.

Sumpah Pemuda telah menjadi faktor pembentuk bangsa Indonesia dimana pada momen tersebut, menumbuhkan sikap nasionalisme para pemuda Indonesia kala itu untuk berkomitmen berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yakni Indonesia.

Tujuan dari Sumpah Pemuda tentunya adalah untuk mempersatukan kekuatan gerakan pemuda Indonesia agar perjuangan memperoleh kemerdekaan bisa tercapai.

Dua momentum besar yang dipelopori oleh para pemuda terpelajar tersebut baik pergerakan Budi Utomo atau Sumpah Pemuda itu terjadi sebelum bangsa ini lahir. 

Baca Juga: HUT Dekranas ke-44 di Kota Solo, Kabupaten Subang tampilkan kekayaan alam, budaya, dan kreatifitas warga Subang

Sikap aktivisme dan nasionalisme kaum muda saat itu terbentuk dari keadaan sosial yang mereka hadapi melihat realitas kondisi masyarakat dan keadaan bangsanya.

Generasi muda negeri ini saat itu tau, kenapa mereka harus mengambil peran untuk tidak hanya sekedar diam melihat keadaan sosial dan realitas yang dihadapi oleh bangsa dan masyarakatnya.

Dari dua momentum tersebut, bibit pemberontakan dan nasionalisme para pemuda Indonesia hidup dan terus tumbuh terutama gerakan untuk memperoleh kemerdekaan.

Dari berbagai latar belakang agama, budaya, suku dengan segala entitas organisasi pemuda kala itu bersatu dan terus berupaya agar bangsa dan masyarakat Indonesia memperoleh kemandirian sebagai sebuah bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X