ESAI : Moderasi beragama

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 November 2023 | 23:36 WIB
Nusaibah Rahmawati, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang
Nusaibah Rahmawati, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang

Pada akhir-akhir ini ramai dibicarakan di tengah masyarakat tentang betapa pentingnya toleransi antar umat beragama.

Dalam syariat Islam pun telah memberi pedoman dengan jelas, bahwa agama tidak boleh dipaksakan, setiap orang berhak memilih keyakinan yang berbeda-beda,

Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa semua orang dipersilahkan memilih agama sebagaimana yang di yakini masing-masing. 'Lakum Diinukum wa liya Diin, untukmu agamamu dan untukku agamaku,'

Di indonesia ada beragam agama ada islam, Kristen, katolik, hindu, buddha, dan konghucu.

Baca Juga: Siap raih prestasi pada Porpemda Jabar XV, Kabupaten Subang kirimkan 131 atlet dan official 

Dalam menyikapi perbedaan agama ini, kita hendaklah bersikap saling toleransi serta perlu memahami konsep moderasi beragama.

Moderasi beragama itu adalah cara beragama jalan tengah sesuai pengertian moderas tadi.

Dengan moderasi beragama, seseorang tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya.

Adapun orang yang mempraktekannya disebut moderat. Sikap moderat ini tanpa sadar sudah kita praktekan dari dulu dan itulah mengapa sampai saat ini semboyan bangsa yaitu Bineka Tunggal Ika masih dapat kita jaga.

Baca Juga: Cegah terjadinya banjir, PT Dahana turut serta dalam penanaman mangrove di Legonkulon Subang

Moderasi dalam sejarah umat manusia sudah lama dikenal sebagai prinsip hidup.

Dalam mitologi Yunani kuno, prinsip moderasi sudah dikenal dan dipahatkan pada inskripsi patung Apollo di Delphi dengan tulisan Meden Agan, yang berarti 'tidak berlebihan,'

Prinsip moderasi saat itu sudah dipahami sebagai nilai untuk melakukan segala sesuatu secara proporsional, tidak berlebihan.

Seorang yang moderat dalam hal makanan, misalnya, akan menyantap segala jenis makanan, tapi membatasi porsinya agar tidak menimbulkan penyakit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X