Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 16:03 WIB
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh (Instagram.com/@keretacepat_id)
Menyoroti nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh (Instagram.com/@keretacepat_id)

Dana tambahan kembali harus dipinjam dari China Development Bank (CDB) dengan bunga mencapai 3 persen, jauh di atas bunga pinjaman awal yang hanya 2 persen.

Baca Juga: Setelah Patrick Kluivert mundur, Bung Binder kritik permainan Garuda: Dulu 6 poin, sekarang acak-acakan

Di sisi lain, Kementerian Keuangan menegaskan tidak akan menggunakan APBN untuk menutup kekurangan dana tersebut.

“Kalau Danantara sudah punya dividen sendiri sampai Rp80 triliun, seharusnya mereka bisa menutup dari sana, bukan dari APBN lagi,” ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, 12 Oktober 2025.

Restrukturisasi jadi jalan tengah

Kini, restrukturisasi utang Whoosh menjadi opsi paling realistis. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, proyek ini masuk ke dalam 22 program strategis Danantara, termasuk rencana penambahan ekuitas dan kemungkinan pengalihan sebagian aset ke pemerintah melalui skema Badan Layanan Umum (BLU).

Baca Juga: Mahfud MD soroti dominasi pihak China di proyek Whoosh: Saham Indonesia 60 persen, tapi jabatan strategis dikuasai ekspatriat

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut langkah restrukturisasi ini bukan sekadar penyelamatan finansial, tetapi juga penataan ulang tata kelola proyek strategis.

“Saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kita coba perbaiki, kita audit, dan berunding dengan China,” kata Luhut dalam acara 1 Tahun Prabowo–Gibran, 18 Oktober 2025.

“China mau restrukturisasi, tinggal tunggu Keppres untuk bentuk timnya,” tambahnya.

Perbandingan dengan Saudi Land Bridge

Perdebatan soal efisiensi Whoosh kian mencuat setelah muncul perbandingan dengan proyek Saudi Land Bridge, kereta logistik sepanjang 1.500 kilometer di Arab Saudi.

Baca Juga: Gerakan edukasi halal UMKM dorong pemuda dan pelaku usaha Subang jadi pendamping produk halal

Proyek itu hanya menelan biaya 7 miliar dolar AS (Rp116 triliun), lebih rendah dari Whoosh yang hanya membentang 142,3 kilometer, tapi menelan Rp120,6 triliun.

Land Bridge merupakan bagian dari Saudi Vision 2030, program diversifikasi ekonomi dengan tingkat efisiensi tinggi dan tata kelola investasi yang terbuka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X